TANGGAMUS – Semangat gotong royong masyarakat Pedukuhan Batu Nyangka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pendidikan bagi anak-anak. Jauh sebelum menikmati fasilitas sekolah yang lebih layak, warga setempat berinisiatif membangun sekolah secara swadaya demi memastikan generasi muda tetap dapat mengenyam pendidikan.
Kala itu, anak-anak di Batu Nyangka harus berpindah-pindah tempat belajar dengan memanfaatkan rumah-rumah warga karena belum memiliki gedung sekolah sendiri. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk bergerak tanpa menunggu bantuan pemerintah.
Dengan mengumpulkan dana secara gotong royong sebesar Rp1,5 juta, warga membeli sebidang tanah yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah agar memiliki status hukum yang jelas sebagai lokasi pembangunan sekolah.
Berbekal semangat kebersamaan, masyarakat membangun SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh menggunakan tenaga dan sumber daya yang mereka miliki. Warga bergotong royong mengangkut kayu dari hutan untuk dijadikan bahan bangunan, mendirikan dinding dari papan, serta memasang atap berbahan daun kirai.
Bangunan sekolah yang sederhana dengan lantai tanah itu menjadi tempat lahirnya harapan baru bagi anak-anak di daerah tersebut.
Tak hanya membangun gedung, masyarakat juga menunjukkan kepedulian tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan. Sebelum pemerintah menempatkan tenaga pendidik, warga secara sukarela mengumpulkan iuran untuk membayar honor guru agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika sekolah mulai memperoleh guru tetap pada tahun 2006, sehingga proses pendidikan dapat berlangsung lebih optimal.
Meski fasilitas yang dimiliki saat itu sangat sederhana, keberadaan sekolah menjadi titik awal terbukanya akses pendidikan bagi anak-anak Batu Nyangka yang sebelumnya harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Kisah SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi masyarakat mampu menghadirkan perubahan besar. Semangat gotong royong, kepedulian, dan tekad untuk memberikan pendidikan kepada generasi penerus menjadi modal utama yang tidak dapat tergantikan oleh keterbatasan sarana.
Perjuangan warga Batu Nyangka juga menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak saling mendukung, kesempatan belajar bagi setiap anak akan semakin terbuka demi mewujudkan masa depan yang lebih baik.










