Malang – Nama Isa Almasih Putra Muhammadiyah menjadi perhatian dalam Wisuda ke-123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengikuti prosesi wisuda pada Kamis, 24 September 2026.
Isa sempat menarik perhatian karena namanya yang unik. Saat mendapat kesempatan menyampaikan sambutan di hadapan wisudawan dan keluarga, ia memperkenalkan diri dengan gaya santai. Ia kemudian menambahkan nama “Putra Muhammadiyah” setelah menyebut “Isa Almasih”, yang disambut tawa dan tepuk tangan para hadirin.
Dalam pidatonya, Isa juga mengungkapkan bahwa perjalanan kuliahnya di UMM tidak selalu diawali dengan rasa percaya diri. Ia merasa bangga dapat berkuliah di kampus Muhammadiyah, tetapi sempat pesimis karena mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren.
Keraguan tersebut perlahan berubah setelah Isa berinteraksi dengan dosen, senior, dan teman-temannya. Menurutnya, pengalaman mengikuti perkuliahan, organisasi, serta berbagai diskusi membuatnya memahami bahwa kuliah tidak hanya bertujuan memperoleh gelar, tetapi juga membentuk cara seseorang memandang ilmu, bekerja, dan memberikan manfaat.
Perjalanan akademiknya kemudian dituangkan dalam tugas akhir berjudul “Teologi al-‘Ashr sebagai Basis Budaya Organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang.” Dalam penelitian tersebut, Isa mengkaji nilai-nilai al-‘Ashr dan kaitannya dengan kehidupan akademik serta organisasi di lingkungan kampus.
Ia juga mengenalkan nilai IIIMAN, yaitu Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah, dan Nazahah. Menurut Isa, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk bekerja secara sungguh-sungguh, membangun kebersamaan, dan menjaga integritas.
Selain kegiatan akademik, Isa menilai pengalaman organisasi, penelitian, dan pengabdian turut membentuk proses transformative learning. Baginya, pembelajaran di perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat mendorong perubahan diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan wisuda tersebut, Isa juga memberikan penghormatan kepada dosen dan orang tua. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan mahasiswa mengenakan toga tidak terlepas dari dukungan orang-orang yang mendampingi perjalanan pendidikan mereka.
Kisah Isa menjadi perhatian bukan hanya karena namanya, tetapi juga karena perjalanan pendidikannya di UMM. Sebelumnya, ia juga sempat menjadi perhatian publik ketika menjadi khatib salat Id di Nganjuk pada 2026. Ayahnya, Fatah Al Basid, menjelaskan bahwa nama “Isa Al-Masih” diberikan karena terinspirasi dari nama nabi dalam Islam, sedangkan tambahan “Putra Muhammadiyah” diberikan untuk memperjelas identitasnya.








