Kudus – Menara Masjid Al-Aqsa Kudus atau yang lebih dikenal sebagai Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan arsitektur bersejarah di Jawa. Bangunan yang memiliki perpaduan unsur Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam tersebut hingga kini masih menyimpan pertanyaan mengenai waktu pasti pembangunannya.
Pakar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Kudus, Prof. Moh Rosyid, mengatakan belum terdapat data ilmiah yang secara tegas dapat memastikan kapan Menara Masjid Al-Aqsa dan sejumlah bangunan kuno di kompleks tersebut didirikan. Karena itu, penelitian arkeologi lebih lanjut dinilai diperlukan untuk mengungkap kronologinya.
Asal-usul Menara Kudus Belum Pasti
Menara Masjid Al-Aqsa berada di kawasan Kota Lama Kudus dan memiliki bentuk arsitektur yang berbeda dari menara masjid pada umumnya. Bangunan berbahan bata merah tersebut memiliki kemiripan dengan bentuk bangunan candi di Jawa.
Selain menara, kawasan tersebut juga memiliki gapura kuno, kori atau pintu kembar, serta berbagai ornamen yang menunjukkan percampuran unsur budaya. Sejumlah kajian mengaitkannya dengan masa peralihan dari kebudayaan Hindu-Buddha menuju Islam di Jawa.
Namun, kemiripan arsitektur tersebut belum dapat menjadi bukti tunggal mengenai kapan menara dibangun. Dokumen dan data ilmiah yang dapat menentukan kronologi pembangunan secara pasti masih terbatas.
Masjid Dibangun pada 1549 Masehi
Berbeda dengan kronologi menara, keberadaan Masjid Al-Aqsa Kudus memiliki data tertulis yang lebih jelas. Prasasti pada bagian mihrab mencantumkan angka 956 Hijriah, yang dalam kajian terbaru dikonversi menjadi 23 Agustus 1549 Masehi.
Kajian lintas disiplin yang melibatkan ahli arkeologi, filologi, epigrafi, arsitektur, kaligrafi, dan ilmu falak pada 2026 menggunakan pembacaan terbaru prasasti tersebut sebagai salah satu sumber primer untuk merekonstruksi sejarah Kudus.
Data Kementerian Agama juga mencatat Masjid Al-Aqsho Menara Kudus sebagai masjid bersejarah yang berdiri pada 1549.
Meski demikian, tahun pembangunan masjid tidak otomatis menjawab pertanyaan kapan menara didirikan. Hubungan kronologis antara pembangunan masjid dan menara masih menjadi bagian yang perlu diteliti lebih lanjut.
Menara Sudah Mengalami Beberapa Renovasi
Salah satu persoalan dalam menelusuri sejarah Menara Kudus adalah perubahan fisik bangunan akibat renovasi. Berdasarkan kajian yang dikutip detikEdu, Menara Masjid Al-Aqsa telah mengalami empat kali renovasi, sehingga kondisi bangunan saat ini tidak sepenuhnya dapat dianggap sama dengan bentuk awalnya.
Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi arkeolog ketika hendak menentukan bagian mana yang merupakan struktur asli dan bagian mana yang telah mengalami perubahan atau perbaikan pada periode berikutnya.
Karena itu, penelitian tidak cukup hanya mengandalkan bentuk bangunan yang terlihat saat ini, tetapi juga perlu memadukan data arkeologi, sejarah, epigrafi, arsitektur, serta sumber lainnya.
Mengapa Disebut Memiliki Unsur Pra-Islam?
Arsitektur Menara Kudus sering menjadi objek penelitian karena bentuknya memperlihatkan karakter yang berbeda dengan menara masjid pada umumnya. Sebuah kajian akademik menyebut bentuk menara memiliki kemiripan dengan bangunan candi Hindu-Buddha di Jawa dan membahasnya sebagai contoh akulturasi arsitektur.
Kajian lain yang tersimpan dalam repositori Kemendikdasmen memperkirakan Menara Masjid Kudus dibangun pada masa peralihan Hindu-Islam, sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Namun, sumber tersebut juga menegaskan bahwa belum terdapat kepastian mengenai siapa dan kapan tepatnya menara tersebut dibangun.
Artinya, istilah “pra-Islam” dalam konteks arsitektur perlu dipahami secara hati-hati. Unsur arsitektur yang lebih tua atau memiliki kemiripan dengan tradisi Hindu-Buddha tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bangunan menara sebelumnya merupakan bangunan keagamaan non-Islam.
Arkeolog Dorong Penelitian Lebih Lanjut
Prof. Moh Rosyid mendorong penelitian arkeologi dilakukan untuk memperoleh data ilmiah mengenai sejarah bangunan tersebut. Menurutnya, penentuan kronologi penting agar sejarah peninggalan arsitektur di Kudus tidak hanya bergantung pada perkiraan maupun tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.
Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo juga menekankan pentingnya memahami nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama yang terdapat pada peninggalan arkeologi.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, melihat penelitian mengenai arsitektur kuno Kudus sebagai peluang untuk membangun kolaborasi riset. Menurutnya, peninggalan tersebut dapat merekam dinamika sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat pada masa lalu.
Sejarah Menara Kudus Masih Terbuka untuk Diteliti
Menara Masjid Al-Aqsa Kudus menjadi contoh bahwa peninggalan sejarah tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu sumber. Prasasti, struktur bangunan, ornamen, tradisi masyarakat, catatan sejarah, dan penelitian arkeologi perlu dibaca secara bersama-sama.
Dengan penelitian ilmiah yang lebih mendalam, kronologi pembangunan menara diharapkan dapat dipahami secara lebih akurat. Bagi generasi sekarang, riset tersebut juga penting untuk menjaga nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam salah satu ikon Kota Kudus tersebut.








