Lahan gambut sebenarnya menyimpan banyak cadangan air. Namun, perubahan kondisi hidrologis, terutama akibat pengeringan, membuat lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar. Hal tersebut dijelaskan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Dr Dony Rachmanadi.
Gambut terbentuk dari tumpukan bahan organik yang belum terurai sempurna. Ketika kawasan gambut dikeringkan, kandungan air berkurang dan material organik tersebut menjadi bahan yang mudah terbakar, terutama saat kondisi cuaca kering.
Kebakaran gambut juga memiliki karakteristik berbeda karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah atau subsurface smoldering. Kondisi ini membuat api sulit terlihat dan dipadamkan secara menyeluruh. Bahkan, api dapat kembali menyala ketika memperoleh oksigen setelah proses pemadaman.
Karena itu, menjaga kondisi hidrologis dan kelembapan lahan gambut menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran. Riset BRIN juga menunjukkan bahwa kelembapan tanah, tinggi muka air, cuaca, jenis gambut, hingga kondisi lingkungan merupakan sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko karhutla.








