Tantangan profesi guru di era modern menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan pemerhati pendidikan. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, minat generasi muda untuk memilih profesi guru dinilai mengalami penurunan. Berbagai faktor seperti persepsi mengenai kesejahteraan, beban administrasi, serta tingginya tuntutan profesi disebut menjadi alasan yang memengaruhi pandangan generasi muda terhadap dunia keguruan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Seminar Nasional Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Indonesia (PD-PGMI). Forum tersebut membahas strategi penguatan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman dan mampu menarik minat generasi muda.
Ketua Umum PD-PGMI Indonesia, Andi Prastowo, menilai bahwa citra profesi guru perlu diperbarui agar sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, guru tidak lagi hanya dipandang sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan perubahan, memanfaatkan teknologi, dan berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia.
Karena itu, PD-PGMI mendorong transformasi kurikulum yang lebih berorientasi pada hasil atau outcome. Kurikulum tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga memperkuat kompetensi praktis yang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk kemampuan teknologi, literasi digital, komunikasi, kolaborasi, serta kepemimpinan pendidikan.
Selain aspek akademik, penguatan karakter mahasiswa juga menjadi perhatian utama. Perguruan tinggi didorong untuk membentuk calon guru yang memiliki kemampuan multidimensi, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
Dukungan terhadap penguatan PGMI juga datang dari Kementerian Agama. Direktur Jenderal Pendidikan Islam melalui perwakilannya, Sahiron Samsudin, menegaskan bahwa PGMI memiliki peran strategis dalam mencetak guru kelas yang profesional dan berkualitas untuk jenjang pendidikan dasar.
Ia menilai lulusan PGMI memiliki kompetensi yang tidak kalah dibandingkan lulusan program pendidikan guru lainnya. Karena itu, Kementerian Agama berkomitmen untuk terus memperjuangkan kesetaraan peluang kerja bagi lulusan PGMI agar tidak lagi menghadapi perlakuan diskriminatif dalam berbagai proses rekrutmen tenaga pendidik.
Dalam menghadapi tantangan global, program studi PGMI juga didorong untuk memperluas kerja sama internasional, meningkatkan kualitas penelitian, serta memperkuat jejaring akademik dengan berbagai institusi pendidikan di dalam maupun luar negeri. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa dan lulusan untuk berkembang di tingkat global.
Para akademisi menilai bahwa generasi Z sebenarnya tetap memiliki ketertarikan pada pekerjaan yang bermakna dan memberikan dampak sosial. Oleh karena itu, profesi guru perlu diposisikan sebagai karier yang tidak hanya mulia, tetapi juga menawarkan ruang inovasi, pengembangan diri, dan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.
Melalui berbagai upaya transformasi tersebut, PGMI diharapkan mampu melahirkan guru-guru masa depan yang profesional, adaptif terhadap teknologi, memiliki karakter kuat, serta siap menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Dengan demikian, profesi guru dapat kembali menjadi pilihan karier yang menarik bagi generasi muda Indonesia.








