Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan adanya perkembangan positif dalam kemampuan siswa Indonesia, khususnya pada bidang sains dan membaca. Namun, peningkatan tersebut belum terjadi secara merata karena skor matematika justru mengalami penurunan.
Berdasarkan data OECD, skor sains Indonesia meningkat dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389 pada 2025. Sementara skor membaca naik dari 359 menjadi 365. Di sisi lain, skor matematika turun tipis dari 366 menjadi 364 poin.
Jika dilihat dari capaian kompetensi minimum, sekitar 36,81 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam sains. Pada membaca, angkanya mencapai 27,11 persen, sedangkan matematika sekitar 16,93 persen.
Akses Pendidikan Semakin Luas
Selain capaian akademik, PISA 2025 juga menunjukkan perkembangan dalam akses pendidikan. Coverage Index Indonesia meningkat dari 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025. Artinya, proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal semakin besar.
PISA 2025 sendiri melibatkan 91 negara atau ekonomi dengan lebih dari 760 ribu siswa. Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen yang mewakili sekitar 3,99 juta siswa berusia 15 tahun.
Meski ada kemajuan, hasil PISA juga menunjukkan pekerjaan rumah yang masih besar. Kemampuan matematika, sains, dan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Bahkan, hanya sekitar 17 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum matematika, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 65 persen.
Karena itu, peningkatan skor PISA tidak hanya perlu dilihat dari posisi peringkat, tetapi juga dari bagaimana kemampuan siswa dalam bernalar, memecahkan masalah, berpikir kritis, dan belajar secara mandiri terus diperkuat melalui pembelajaran di sekolah.









