JAKARTA – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan kemampuan matematika siswa Indonesia mengalami penurunan dibandingkan hasil PISA 2022.
Berdasarkan hasil yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 8 September 2026, skor matematika Indonesia berada di angka 364 poin, turun 2 poin dibandingkan skor 366 poin pada PISA 2022.
Di sisi lain, kemampuan membaca dan sains justru menunjukkan kenaikan masing-masing 6 poin. Skor membaca meningkat dari 359 menjadi 365, sedangkan skor sains naik dari 383 menjadi 389.
Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Skor Matematika Indonesia Turun Menjadi 364
Dalam PISA 2025, Indonesia mencatat skor matematika 364 poin. Angka tersebut turun 2 poin dibandingkan capaian 2022 yang mencapai 366 poin.
Namun, OECD mencatat bahwa perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, penurunan dua poin tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan telah terjadi perubahan kemampuan matematika yang nyata secara statistik antara 2022 dan 2025. Secara umum, performa matematika Indonesia pada 2025 masih berada pada kisaran yang sama dengan 2022.
Meski demikian, hasil tersebut tetap menjadi perhatian karena kemampuan matematika merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Hanya 16,93 Persen Siswa Capai Kompetensi Minimum
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah rendahnya persentase siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum matematika.
Data Kemendikdasmen menunjukkan hanya sekitar 16,93 persen siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika pada PISA 2025.
Dengan demikian, sebagian besar siswa masih belum mencapai Level 2 dalam penilaian matematika PISA.
OECD menjelaskan bahwa siswa yang mencapai setidaknya Level 2 sudah mampu mengenali dan menafsirkan bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis tanpa instruksi langsung. Contohnya, siswa dapat membandingkan jarak dua rute atau mengubah harga ke mata uang lain.
Sementara itu, rata-rata negara OECD menunjukkan sekitar 65 persen siswa telah mencapai setidaknya Level 2 matematika.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan matematika dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia.
Masalahnya Bukan Sekadar Menghitung
Kemampuan matematika yang diukur PISA tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung.
Siswa dihadapkan pada persoalan yang menyerupai situasi kehidupan nyata. Mereka perlu membaca informasi, menentukan informasi yang relevan, memahami persoalan, memilih konsep matematika yang sesuai, kemudian mencari solusi.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan bahwa salah satu tantangan siswa Indonesia adalah menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam bentuk atau formula matematika.
Dengan kata lain, siswa bisa saja mampu menghitung dengan benar ketika persamaan matematika sudah tersedia. Namun, tantangannya muncul ketika mereka harus menentukan sendiri rumus atau pendekatan matematika apa yang harus digunakan.
Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan penalaran.
Banyak Informasi dalam Soal Bisa Menjadi Tantangan
Persoalan matematika PISA juga sering menyajikan informasi dalam berbagai bentuk, seperti teks, tabel, grafik, atau data lainnya.
Siswa harus memilah mana informasi yang relevan dan mana yang tidak diperlukan untuk menyelesaikan persoalan.
Kemampuan membaca informasi tersebut menjadi penting karena matematika dalam kehidupan nyata hampir tidak pernah hadir dalam bentuk soal sederhana yang langsung menyebutkan rumus.
Misalnya, ketika seseorang ingin menghitung biaya perjalanan, menentukan pilihan harga barang, membaca grafik, atau membandingkan data, diperlukan kemampuan untuk memahami konteks sebelum melakukan perhitungan.
Karena itu, penguatan matematika tidak cukup hanya dengan memperbanyak latihan soal yang memiliki pola sama.
Siswa perlu dibiasakan menghadapi masalah yang beragam dan tidak selalu memiliki langkah penyelesaian yang langsung terlihat.
Matematika Indonesia Masih Jauh di Bawah Rata-rata OECD
Selain rendahnya proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum, skor rata-rata Indonesia juga masih berada di bawah rata-rata OECD.
Indonesia mencatat 364 poin dalam matematika, sedangkan rata-rata OECD berada di sekitar 463 poin dalam PISA 2025.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan kemampuan numerasi perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya siswa yang berada di tingkat bawah, tetapi juga bagaimana sistem pendidikan dapat meningkatkan jumlah siswa yang mampu mencapai tingkat kompetensi lebih tinggi.
OECD mencatat hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6, yaitu kelompok performa tertinggi dalam matematika. Rata-rata OECD untuk kelompok tersebut sekitar 8 persen.
Kabar Baik dari Sains dan Membaca
Di tengah tantangan matematika, PISA 2025 juga membawa kabar positif bagi Indonesia.
Skor sains meningkat 6 poin, dari 383 pada 2022 menjadi 389 pada 2025. Skor membaca juga meningkat 6 poin, dari 359 menjadi 365.
Kenaikan tersebut perlu diapresiasi, meskipun OECD mencatat perubahan skor Indonesia antara 2022 dan 2025 secara umum belum signifikan secara statistik.
Kemendikdasmen juga menilai performa Indonesia relatif stabil di tengah tren penurunan hasil PISA di banyak negara.
Pada periode 2015–2025, rata-rata skor matematika negara-negara OECD turun sekitar 22 poin, sementara membaca turun 28 poin.
Dengan konteks tersebut, Indonesia perlu melihat hasil PISA bukan hanya berdasarkan naik atau turunnya skor, tetapi juga memahami kemampuan apa yang perlu diperkuat.
PISA Mengukur Kemampuan Menghadapi Masalah Nyata
PISA dirancang untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi situasi nyata.
PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi di dunia. Penilaian tahun ini berfokus pada sains, sekaligus mengukur kemampuan membaca, matematika, serta pembelajaran dalam dunia digital.
Karena itu, hasil PISA tidak tepat jika hanya dimaknai sebagai nilai ujian matematika.
Lebih jauh, hasil tersebut memberikan gambaran tentang kemampuan generasi muda dalam menggunakan informasi, bernalar, memecahkan masalah, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.
Kemendikdasmen Dorong Penguatan Penalaran
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan penurunan skor matematika perlu dibaca secara hati-hati.
Menurutnya, hasil tersebut menjadi sinyal bahwa kemampuan siswa dalam bernalar dan memecahkan masalah masih perlu diperkuat.
Pendekatan tersebut penting karena peningkatan kemampuan matematika tidak hanya dapat dilakukan melalui hafalan rumus.
Siswa perlu memahami konsep dan mengetahui kapan serta bagaimana sebuah konsep dapat digunakan.
Dengan demikian, pembelajaran matematika perlu memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk menghadapi persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Empat Strategi Kemendikdasmen Setelah PISA 2025
Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah untuk menindaklanjuti hasil PISA 2025.
Pertama, pemerintah akan memperkuat kompetensi guru, termasuk melalui pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta penguatan kemampuan pedagogik dan digital.
Kedua, kualitas pembelajaran akan diperkuat melalui pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter.
Ketiga, pemerintah akan melakukan harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi penalaran yang digunakan dalam kerangka PISA.
Keempat, pemerintah akan memperkuat peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat serta kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan hasil belajar tidak hanya dibebankan kepada siswa.
Guru, sekolah, keluarga, sistem asesmen, serta lingkungan belajar juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Pembelajaran Matematika Perlu Lebih Dekat dengan Kehidupan
Salah satu cara memperkuat numerasi adalah membawa matematika lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Misalnya, siswa dapat belajar persentase melalui perhitungan diskon, belajar statistik melalui data lingkungan sekolah, memahami perbandingan melalui resep makanan, atau mempelajari geometri melalui pengukuran benda di sekitar mereka.
Dengan cara tersebut, matematika tidak lagi dipandang sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan.
Siswa dapat memahami bahwa matematika merupakan alat untuk membaca dunia dan mengambil keputusan.
Pendekatan seperti ini juga dapat membantu siswa menghadapi tipe persoalan PISA yang menuntut kemampuan menerjemahkan informasi kehidupan nyata menjadi persoalan matematika.
Teknologi dan AI Harus Digunakan Secara Tepat
PISA 2025 juga berlangsung di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Data OECD menunjukkan siswa Indonesia cukup banyak terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas informasi yang dihasilkan AI. Sekitar 73,2 persen siswa Indonesia melaporkan belajar menilai informasi yang dihasilkan AI di kelas.
Namun, teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir siswa.
OECD menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan secara terarah untuk memberikan umpan balik dan membantu latihan yang dipersonalisasi, bukan menggantikan usaha siswa dalam berpikir. Pemahaman tetap terbentuk ketika siswa melakukan proses berpikir sendiri.
Prinsip tersebut juga relevan untuk pembelajaran matematika.
Jika siswa menggunakan kalkulator, aplikasi, atau AI hanya untuk mendapatkan jawaban tanpa memahami prosesnya, kemampuan bernalar justru berisiko tidak berkembang.
Rasa Ingin Tahu Siswa Indonesia Jadi Modal
Meski hasil matematika masih menjadi tantangan, terdapat modal positif yang dapat dikembangkan.
OECD mencatat siswa Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang relatif tinggi. Banyak siswa juga melaporkan senang mempelajari hal-hal baru dan ingin mengetahui bagaimana sesuatu bekerja.
Rasa ingin tahu tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pembelajaran berbasis masalah.
Guru dapat memulai pembelajaran dari pertanyaan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mengajak siswa mencari data, membuat dugaan, menghitung, menguji hasil, dan menjelaskan kesimpulannya.
Dengan demikian, kemampuan matematika berkembang bersamaan dengan kemampuan berpikir kritis.
PISA 2025 Bukan Sekadar Soal Peringkat
Hasil PISA sering kali mendapat perhatian karena berkaitan dengan posisi Indonesia dibandingkan negara lain.
Namun, angka peringkat bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Yang jauh lebih penting adalah mengetahui kemampuan apa yang sudah dikuasai siswa dan bagian mana yang masih lemah.
Jika sebagian besar siswa belum mampu menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam model matematika, maka pembelajaran harus memperkuat kemampuan tersebut.
Jika siswa kesulitan membaca grafik atau memilih informasi yang relevan, kemampuan interpretasi data perlu lebih banyak dilatih.
Dengan demikian, PISA dapat digunakan sebagai alat diagnosis untuk memperbaiki pembelajaran.
Kesimpulan
Hasil PISA 2025 menunjukkan skor matematika Indonesia berada di angka 364 poin, turun 2 poin dari 366 poin pada PISA 2022. Namun, OECD menyatakan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik sehingga capaian matematika Indonesia secara umum masih berada pada kisaran yang sama.
Tantangan yang lebih besar terlihat dari rendahnya proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum. Hanya sekitar 16,93 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum matematika.
Masalahnya bukan sekadar kemampuan menghitung, melainkan bagaimana siswa menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam konsep matematika, memilih informasi yang relevan, menyusun strategi, dan menemukan solusi.
Karena itu, hasil PISA 2025 menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat numerasi, penalaran, pemecahan masalah, kompetensi guru, dan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Penurunan dua poin tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyalahkan siswa atau guru. Sebaliknya, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar pembelajaran matematika semakin bermakna dan mampu membentuk generasi yang tidak hanya bisa menghitung, tetapi juga mampu berpikir dan memecahkan masalah.









