MAKASSAR – Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) hasil kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) terus menunjukkan dampak positif dalam melestarikan wastra Nusantara sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi generasi muda. Sejak diluncurkan pada 2020, program ini telah melahirkan lebih dari 5.700 pelestari wastra dari berbagai daerah di Indonesia.
Keberhasilan tersebut terlihat dalam rangkaian Pameran Hari Ulang Tahun ke-46 Dekranas yang berlangsung di Makassar. Pada kegiatan tersebut, para alumnus PKW menampilkan keterampilan menenun kain tradisional secara langsung di hadapan pengunjung, memperlihatkan bahwa warisan budaya Indonesia tetap hidup melalui tangan-tangan generasi muda.
Melalui demonstrasi tersebut, masyarakat dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan kain tradisional yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta keterampilan tinggi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan nonformal mampu berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Program PKW dilaksanakan melalui pendampingan Direktorat Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen dengan melibatkan jaringan Dekranas dan Dekranasda di berbagai provinsi. Selain mengajarkan teknik menenun, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai kewirausahaan sehingga mampu mengembangkan usaha berbasis produk budaya lokal.
Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, mengatakan keikutsertaan para peserta PKW dalam pameran menjadi contoh nyata keberhasilan pendidikan kecakapan hidup yang tidak hanya menghasilkan tenaga terampil, tetapi juga pelaku usaha kreatif berbasis budaya.
Menurutnya, karya-karya yang dipamerkan menunjukkan bahwa hasil pembinaan mampu menghasilkan produk berkualitas yang memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas, termasuk menjangkau pasar internasional.
Yaya berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal produk wastra hasil karya para peserta sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat posisi kain tradisional Indonesia di industri kreatif.
Salah satu peserta yang merasakan manfaat program tersebut adalah Wahyuni, alumnus PKW dari Dekranasda Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Ia memilih mendalami keterampilan menenun gebeng karena ingin ikut menjaga keberlangsungan kain tradisional yang selama ini didominasi para penenun generasi terdahulu.
Setelah mengikuti pelatihan, Wahyuni kini mampu menghasilkan sedikitnya dua lembar kain setiap bulan. Produk buatannya juga mulai menerima berbagai pesanan dari pelanggan sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi dirinya dan keluarga.
Pengalaman serupa dialami Sinta yang telah mengenal kerajinan songket sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Melalui PKW, ia memperdalam kemampuan menenun, termasuk mempelajari teknik pembuatan benang menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan.
Tidak hanya mengandalkan penjualan secara langsung, Sinta juga memanfaatkan marketplace dan media sosial untuk memasarkan hasil tenunnya. Strategi tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas dan membantu mengembangkan usaha yang dirintisnya.
Bagi Wahyuni maupun Sinta, Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha tidak sekadar memberikan keterampilan baru. Program tersebut juga menjadi jalan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi melalui pelestarian budaya lokal yang memiliki nilai jual tinggi.
Kemendikdasmen menilai pengembangan keterampilan berbasis budaya menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pendidikan nonformal sekaligus menciptakan wirausaha baru yang mampu bersaing di era ekonomi kreatif.
Melalui kolaborasi bersama Dekranas, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari kerajinan tradisional, menjaga keberlangsungan wastra Nusantara, serta mengangkat produk budaya Indonesia agar semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional.











