Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026. Salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan tersebut adalah SMA Negeri 2 Kota Jayapura, Papua, yang kini menjalani pembangunan dan perbaikan fasilitas dengan anggaran lebih dari Rp2 miliar.
Program ini diharapkan dapat menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi siswa maupun guru. Selain memperbaiki fasilitas sekolah, pelaksanaan revitalisasi juga memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, termasuk putra asli Papua.
Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 19 Oktober 2026, Kemendikdasmen menyampaikan bahwa revitalisasi SMAN 2 Jayapura menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat mutu layanan pendidikan di wilayah Papua. <Cite refs={[“turn619813search0″,”turn619813search17”]}/>
Bangunan Sekolah Berusia 40 Tahun Mulai Diperbarui
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 2 Jayapura, Lea Ansanay, menjelaskan bahwa kondisi bangunan sekolah yang telah berusia sekitar 40 tahun menjadi tantangan tersendiri dalam mendukung kegiatan pembelajaran.
Awalnya, bantuan revitalisasi direncanakan untuk merehabilitasi tujuh ruang kelas. Namun, setelah dilakukan penghitungan ulang, anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memperluas cakupan pekerjaan.
Rencana perbaikan tersebut meliputi:
- Pembangunan tiga ruang kelas baru.
- Rehabilitasi empat ruang kelas yang sudah ada.
- Pengembangan lantai dua untuk tiga ruang kelas.
Perubahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelayakan fasilitas belajar sekaligus memberikan ruang yang lebih memadai bagi kegiatan pendidikan di sekolah.
Lea Ansanay menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, serta pemerintah daerah atas dukungan yang diberikan kepada sekolahnya. <Cite refs={[“turn619813search0”]}/>
Revitalisasi Libatkan Pekerja Lokal dan Putra Asli Papua
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembangunan SMAN 2 Jayapura adalah keterlibatan masyarakat setempat.
Pelaksanaan revitalisasi menggunakan skema swakelola yang memungkinkan sekolah dan masyarakat terlibat dalam proses pengerjaan. Sebagian besar pekerja yang terlibat merupakan putra asli Papua.
Bahkan, terdapat seorang pekerja penyandang disabilitas tunawicara yang turut berkontribusi dalam pembangunan sekolah tersebut.
Keterlibatan ini menunjukkan bahwa program revitalisasi tidak hanya berorientasi pada perbaikan infrastruktur pendidikan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
Dengan pelaksanaan yang melibatkan warga setempat, program diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. <Cite refs={[“turn619813search0”]}/>
SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura Juga Mendapat Bantuan
Selain SMAN 2 Jayapura, revitalisasi juga membawa perubahan bagi SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura. Sekolah yang berdiri sejak 31 Oktober 1991 tersebut akhirnya menerima bantuan revitalisasi pada 2026 dengan anggaran lebih dari Rp1,1 miliar.
Kepala SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura, Sonya N. Rumanasen, menyampaikan bahwa pengerjaan revitalisasi di sekolahnya telah selesai 100 persen. Pekerjaan berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026.
Melalui skema swakelola, sekolah memperoleh perbaikan pada ruang administrasi atau ruang guru, ruang kepala sekolah, laboratorium IPA, dan satu ruang kelas.
Dalam pelaksanaannya, sekolah berhasil mengoptimalkan pekerjaan sehingga perbaikan ruang kelas bertambah dari rencana awal satu ruang menjadi empat ruang kelas.
Perubahan tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan siswa dan guru serta mendukung proses belajar mengajar yang lebih baik.
Sonya juga menyebut bahwa kondisi bangunan yang semakin tertata mendapatkan respons positif dari masyarakat dan jemaat gereja. Ia berharap fasilitas baru tersebut dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah itu. <Cite refs={[“turn619813search0”]}/>
Siswa Lebih Nyaman Belajar Setelah Sekolah Diperbaiki
Dampak revitalisasi turut dirasakan oleh Roby Aikarem May, siswa kelas IX SMP YPK Sion Dok VIII Jayapura.
Ia mengenang kondisi sekolah sebelum diperbaiki, ketika sejumlah plafon mengalami kerusakan, atap seng bocor, dan sebagian meja serta kursi sudah tidak layak digunakan.
Setelah revitalisasi selesai, kondisi sekolah menjadi lebih baik. Plafon telah diperbaiki, lantai keramik diperbarui, dan ruang kelas menjadi lebih nyaman untuk kegiatan pembelajaran.
Roby menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti atas bantuan yang diterima sekolahnya.
Ia juga mengajak teman-teman serta siswa yang akan bersekolah di sana untuk menjaga fasilitas yang telah diperbaiki agar dapat digunakan bersama dalam jangka panjang.
Perbaikan sarana pendidikan diharapkan tidak hanya membuat sekolah terlihat lebih baik, tetapi juga meningkatkan semangat siswa untuk belajar dan beraktivitas di lingkungan sekolah. <Cite refs={[“turn619813search0”]}/>
Revitalisasi Menjangkau 214 Sekolah di Provinsi Papua
Program revitalisasi satuan pendidikan 2026 juga dilaksanakan di berbagai wilayah Provinsi Papua.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, sebanyak 214 satuan pendidikan di Provinsi Papua telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi 2026 dengan total anggaran lebih dari Rp208 miliar.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 36 satuan pendidikan telah menyelesaikan pembangunan dengan progres 100 persen. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas 13 satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan 23 sekolah menengah pertama (SMP).
Program ini juga melibatkan 2.821 pekerja lokal dalam pelaksanaan revitalisasi di Provinsi Papua.
Sementara itu, khusus di Kota Jayapura, sebanyak 47 satuan pendidikan telah menandatangani PKS dengan total anggaran lebih dari Rp41 miliar. Delapan sekolah, yang terdiri atas lima PAUD dan tiga SMP, telah menyelesaikan pembangunan. Pelaksanaannya turut melibatkan 535 pekerja lokal.
Data tersebut menunjukkan bahwa program revitalisasi menjangkau berbagai jenjang pendidikan sekaligus membuka ruang partisipasi bagi tenaga kerja setempat. <Cite refs={[“turn619813search0”]}/>
Kemendikdasmen Dorong Pemerataan Fasilitas Pendidikan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang layak dan aman bagi seluruh siswa.
Revitalisasi sekolah menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan, terutama pada satuan pendidikan yang membutuhkan pembenahan fasilitas.
Di Papua, peningkatan kualitas bangunan sekolah diharapkan dapat memperkuat layanan pendidikan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar siswa.
Pemerintah juga berharap perbaikan fasilitas mampu memberikan kesempatan belajar yang lebih baik bagi generasi muda Papua, baik di perkotaan maupun di wilayah lain yang membutuhkan dukungan infrastruktur pendidikan.
Dengan pembangunan yang melibatkan masyarakat setempat, program revitalisasi diharapkan memberikan manfaat ganda, yaitu meningkatkan kelayakan fasilitas pendidikan dan mendukung partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi tidak hanya ditentukan oleh selesainya pekerjaan fisik, tetapi juga oleh pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh siswa dan guru dalam jangka panjang.










