Jakarta – Pemeringkatan universitas selama bertahun-tahun menjadi salah satu acuan utama bagi calon mahasiswa, orang tua, hingga pembuat kebijakan dalam menilai kualitas perguruan tinggi. Namun, semakin banyak akademisi dan pemerhati pendidikan tinggi yang mempertanyakan apakah sistem pemeringkatan kampus masih relevan sebagai ukuran utama kualitas pendidikan di era saat ini.
Berbagai lembaga pemeringkatan dunia umumnya menggunakan indikator seperti reputasi akademik, jumlah publikasi ilmiah, sitasi penelitian, internasionalisasi kampus, hingga reputasi di mata pemberi kerja. Meskipun indikator tersebut penting, banyak pihak menilai bahwa ukuran tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap masyarakat dan pembangunan bangsa.
Kritik terhadap sistem pemeringkatan muncul karena perguruan tinggi sering kali terdorong untuk mengejar posisi dalam peringkat global dibandingkan fokus pada kebutuhan lokal dan pengembangan kualitas pembelajaran. Akibatnya, sebagian kampus lebih mengutamakan peningkatan angka publikasi atau indikator yang dinilai lembaga pemeringkatan daripada memperkuat dampak sosial dan kualitas layanan pendidikan.
Selain itu, sistem pemeringkatan dinilai cenderung menguntungkan universitas besar yang memiliki sumber daya penelitian melimpah. Perguruan tinggi yang berfokus pada pengabdian masyarakat, pendidikan vokasi, atau pengembangan daerah sering kali sulit bersaing dalam indikator yang digunakan lembaga pemeringkatan internasional, meskipun memiliki kontribusi besar bagi masyarakat.
Para pakar pendidikan tinggi menilai bahwa kualitas universitas seharusnya tidak hanya diukur dari reputasi global atau jumlah karya ilmiah yang diterbitkan. Faktor seperti keberhasilan lulusan memasuki dunia kerja, dampak penelitian terhadap penyelesaian masalah masyarakat, kualitas pengajaran, kesejahteraan mahasiswa, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah juga perlu mendapat perhatian yang lebih besar.
Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja turut mendorong perlunya pendekatan baru dalam menilai perguruan tinggi. Saat ini, masyarakat semakin membutuhkan kampus yang mampu menghasilkan lulusan adaptif, inovatif, dan memiliki keterampilan yang relevan dengan tantangan masa depan, bukan sekadar kampus yang unggul dalam statistik akademik.
Sejumlah negara mulai mengembangkan metode evaluasi yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan dampak sosial, keberlanjutan, inklusivitas, serta kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Pendekatan tersebut dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kualitas sebuah institusi pendidikan tinggi.
Meski demikian, pemeringkatan universitas tetap memiliki manfaat sebagai alat pembanding dan sumber informasi bagi masyarakat. Tantangannya adalah memastikan bahwa sistem penilaian tidak menjadi tujuan akhir, melainkan hanya salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
Di tengah perubahan global yang cepat, banyak kalangan menilai sudah saatnya kualitas perguruan tinggi diukur melalui dampak nyata yang dihasilkan bagi mahasiswa, masyarakat, dan negara. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya berlomba mengejar angka peringkat, tetapi juga berfokus menciptakan inovasi, membangun karakter, dan memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.








