Bandung — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mendorong penguatan budaya akademik, tradisi membaca, dan kemampuan berpikir kritis di lingkungan perguruan tinggi. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan bedah buku “Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie (Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru)” yang digelar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium FPIPS UPI pada 12 September 2026 tersebut menjadi ruang akademik untuk mengkaji kembali salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia. Lebih dari 150 mahasiswa hadir secara langsung, sementara peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Sejarah 1998 Jadi Bahan Pembelajaran Generasi Muda
Buku Jakarta 1998 mengangkat berbagai dinamika yang terjadi pada masa peralihan pemerintahan dari Presiden Soeharto kepada Presiden BJ Habibie.
Sejumlah peristiwa penting yang dibahas antara lain krisis ekonomi dan moneter, Tragedi Trisakti, gerakan mahasiswa, hingga berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Rangkaian peristiwa tersebut dinilai penting dipelajari karena perubahan yang terjadi pada 1998 masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia hingga saat ini.
Melalui bedah buku, mahasiswa tidak hanya diajak mengetahui kronologi sejarah, tetapi juga melihat berbagai peristiwa tersebut dari sudut pandang akademik dan pengalaman orang-orang yang mengalaminya secara langsung.
Literasi Bukan Sekadar Membaca
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menekankan bahwa memahami sejarah membutuhkan kemampuan membaca fakta dan berbagai sumber secara kritis.
Menurutnya, literasi tidak hanya berarti mampu membaca dan memahami teks, tetapi juga mampu menempatkan informasi dalam konteks sejarah yang tepat. Kemampuan tersebut semakin penting bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung berbagai peristiwa pada 1998.
Dengan membaca dan mendiskusikan berbagai sumber, mahasiswa dapat membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai suatu peristiwa. Mereka juga dapat melihat hubungan antara kejadian masa lalu dengan berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini.
Buku Menjadi Jembatan Pengetahuan Antargenerasi
Salah satu penulis buku, Dadan Wildan, menjelaskan bahwa Jakarta 1998 antara lain dibuat untuk menjembatani pengetahuan sejarah kepada generasi yang lahir setelah 1998.
Generasi tersebut tidak mengalami secara langsung krisis ekonomi, gerakan mahasiswa, Tragedi Trisakti, maupun pengunduran diri Presiden Soeharto. Karena itu, dokumentasi melalui buku dinilai penting agar pengetahuan tentang periode tersebut tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pengetahuan sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda dalam memahami perkembangan bangsa.
Peristiwa 1998 Tak Hanya tentang Politik
Penulis lainnya, Ely Malihah, menyoroti bahwa perubahan pada 1998 memiliki dimensi yang luas.
Krisis yang terjadi saat itu tidak hanya berdampak terhadap sektor ekonomi, tetapi juga memicu berbagai perubahan sosial, termasuk kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan. Di tengah situasi tersebut, muncul kesadaran kolektif mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi melalui gerakan di berbagai daerah, seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya.
Tragedi Trisakti kemudian semakin memperkuat kemarahan masyarakat hingga gerakan mahasiswa berkembang menjadi salah satu kekuatan penting yang mendorong perubahan politik dan berakhirnya pemerintahan Orde Baru.
Mahasiswa Perlu Belajar dari Sejarah
Rektor UPI Didi Sukyadi menilai berbagai peristiwa pada 1998 perlu terus didokumentasikan dan diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia juga mengaitkan pembelajaran sejarah dengan kondisi Indonesia saat ini. Tantangan geopolitik global dapat memberikan dampak terhadap perekonomian nasional. Karena itu, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memahami berbagai perubahan secara kritis dan kontekstual.
Dengan cara tersebut, sejarah dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana keputusan dan perubahan pada masa lalu ikut membentuk kondisi Indonesia sekarang.
Budaya Akademik Diperkuat Lewat Diskusi
Bedah buku tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi.
Budaya membaca dan berdiskusi dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu memeriksa, memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan.
Forum akademik seperti bedah buku juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertukar gagasan dan melihat sebuah persoalan dari berbagai perspektif.
UPI Hubungkan Pembelajaran dengan Kebutuhan Masyarakat
Selain kegiatan akademik, UPI juga mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam persoalan pendidikan di masyarakat.
Salah satunya melalui program Gema Jabar atau Gerakan Mahasiswa Mengajar, yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajar di sekolah-sekolah di Jawa Barat yang membutuhkan tenaga pengajar.
Program tersebut menjadi contoh bagaimana pembelajaran di perguruan tinggi dapat dihubungkan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Sejarah untuk Menghadapi Masa Depan
Bedah buku Jakarta 1998 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum untuk mengenang masa lalu. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tradisi intelektual, budaya membaca, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Dengan memahami sejarah melalui berbagai sumber dan perspektif, generasi muda diharapkan mampu melihat hubungan antara masa lalu, kondisi Indonesia saat ini, dan tantangan yang mungkin dihadapi pada masa mendatang.
Membaca sejarah bukan sekadar mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga belajar memahami mengapa perubahan terjadi dan bagaimana mengambil pelajaran untuk menghadapi masa depan.









