KENDARI – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah sebagai upaya menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan maupun perpeloncoan. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq ke SMP Negeri 15 Kendari, Sulawesi Tenggara, saat penutupan MPLS Ramah.
Dalam kunjungannya, Wamendikdasmen memastikan bahwa seluruh rangkaian MPLS menjadi ruang yang menyenangkan bagi peserta didik baru sekaligus sarana menanamkan pendidikan karakter sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.
Wamendikdasmen Tegaskan Sekolah Harus Bebas Bullying
Di hadapan ratusan peserta didik baru, Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa tidak boleh ada praktik perundungan maupun kekerasan di lingkungan sekolah.
Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut.
Ia mengajak seluruh warga sekolah menjadikan sekolah sebagai “rumah kedua” yang penuh rasa saling menghormati dan kepedulian.
Murid Belajar Etika Bermedia Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Wamendikdasmen juga berdialog langsung dengan para siswa dan mengajak mereka menyanyikan lagu Rukun Sama Teman ciptaan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
Fajar kemudian mengulas berbagai materi yang telah diterima peserta selama lima hari pelaksanaan MPLS.
Menariknya, mayoritas siswa mengaku materi yang paling berkesan adalah etika bermedia sosial dan adab menggunakan internet.
Para peserta memahami pentingnya menghargai karya orang lain dengan menghindari plagiarisme serta tidak meninggalkan komentar yang bersifat kasar atau merendahkan di media sosial.
Biasakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Selain literasi digital, para peserta juga diperkenalkan dengan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Program tersebut mengajak peserta didik membangun kebiasaan positif sejak dini, mulai dari:
- Bangun pagi.
- Beribadah.
- Berolahraga.
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
- Gemar belajar.
- Aktif bermasyarakat.
- Tidur lebih awal.
Menurut Wamendikdasmen, kebiasaan sederhana tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia.
Belajar Sambil Bermain Kenali Lingkungan Sekolah
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari juga menghadirkan pendekatan yang berbeda.
Keterbatasan ruang belajar justru dimanfaatkan sekolah dengan menggelar berbagai kegiatan di luar ruangan melalui permainan edukatif, eksplorasi lingkungan sekolah, dan kerja sama kelompok.
Panitia MPLS, Yudi Eritman, menjelaskan bahwa peserta mengikuti kegiatan bertema “Aku dan Sekolahku” serta “Aku dan Lingkunganku”.
Melalui berbagai tantangan di setiap pos, siswa diajak mengenal fasilitas sekolah, berdiskusi, bekerja sama, sekaligus membangun rasa percaya diri dalam suasana yang menyenangkan.
Murid Baru Merasa Aman Tanpa Perpeloncoan
Pengalaman positif selama MPLS juga dirasakan oleh salah seorang peserta didik baru, Natan Raditya.
Ia mengaku sempat khawatir akan mengalami perpeloncoan maupun perlakuan tidak menyenangkan dari kakak kelas sebelum memasuki SMP.
Namun setelah mengikuti seluruh rangkaian MPLS Ramah, kekhawatiran tersebut hilang karena kegiatan berlangsung penuh permainan edukatif, materi yang bermanfaat, serta pendampingan guru yang ramah.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pelaksanaan MPLS Ramah mampu menciptakan suasana sekolah yang lebih humanis, inklusif, dan mendukung proses adaptasi peserta didik baru.
Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap seluruh satuan pendidikan di Indonesia dapat terus menerapkan budaya sekolah yang bebas dari kekerasan, mengedepankan pendidikan karakter, serta menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak.








