Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah menutup sebanyak 122 program studi (prodi) di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sepanjang tahun 2026.
Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi serta memastikan program studi yang tersedia tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri masa depan.
Menurut pemerintah, sejumlah program studi yang ditutup memiliki berbagai permasalahan, mulai dari minimnya jumlah mahasiswa, kualitas penyelenggaraan yang tidak memenuhi standar, hingga rendahnya daya serap lulusan di dunia kerja. Selain itu, terdapat program studi yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang terus berubah seiring perkembangan teknologi dan transformasi digital.
Penutupan prodi juga dilakukan untuk melindungi mahasiswa agar tidak menempuh pendidikan pada program yang kualitasnya kurang memadai atau memiliki prospek kerja yang terbatas setelah lulus.
Pemerintah menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk mengurangi akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, melainkan mendorong perguruan tinggi melakukan evaluasi dan pembenahan agar mampu menghasilkan lulusan yang lebih kompetitif dan sesuai kebutuhan industri.
Di sisi lain, perguruan tinggi didorong untuk membuka program studi baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk bidang teknologi digital, kecerdasan buatan, energi terbarukan, kesehatan, serta sektor-sektor strategis lainnya yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi.
Kemendiktisaintek memastikan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan pada program studi terdampak tetap mendapatkan perlindungan dan hak akademik sesuai ketentuan yang berlaku. Perguruan tinggi juga diwajibkan menyiapkan mekanisme penyelesaian studi bagi mahasiswa aktif agar tidak dirugikan oleh kebijakan tersebut.
Kebijakan penutupan program studi ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan tinggi nasional sekaligus menciptakan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.








