Saat banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatra, banyak siswa harus tetap bersekolah dalam kondisi serba terbatas, bahkan ada yang belajar di tenda darurat. Di tengah situasi ini, pemerintah melalui Kemendikdasmen mulai merancang langkah tambahan agar hak pendidikan mereka tetap terjaga. Salah satu yang kini dibahas adalah penambahan penerima Program Indonesia Pintar (PIP) khusus bagi murid-murid yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada peristiwa November 2025 lalu. Rencana ini masih berada pada tahap usulan kebijakan dan menunggu finalisasi.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa kebutuhan anggaran untuk PIP tambahan tersebut sedang dihitung secara cermat, termasuk memperhitungkan masukan dan data dari pemerintah daerah. Mekanisme pengusulan dari Pemda menjadi salah satu pintu masuk untuk menentukan siapa saja yang layak mendapatkan bantuan, sehingga bantuan tidak hanya menyasar guru, tetapi juga langsung menyentuh kebutuhan personal siswa yang terdampak.
Di saat yang sama, dukungan bagi pendidik juga berjalan. Sekitar 59 ribu guru yang terdampak bencana diusulkan menerima tunjangan khusus, dan sejauh ini sekitar 36 ribu di antaranya sudah merasakan manfaatnya. Setiap guru memperoleh tunjangan Rp2 juta per bulan selama tiga bulan, sehingga total bantuan yang mereka terima sekitar Rp6 juta per orang. Penyaluran dimulai pada Desember 2025 dan ditargetkan tuntas pada tahap akhir di Februari 2026. Bersamaan dengan itu, pendataan dan verifikasi usulan baru di lapangan terus dilakukan karena kondisi di area bencana sangat dinamis.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga keberlangsungan proses belajar siswa dan keberlangsungan hidup para guru yang menjadi garda terdepan.



































