Tiga tahun setelah pandemi, kemampuan literasi dan numerasi siswa di Indonesia masih belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah karena dikhawatirkan dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran di jenjang pendidikan berikutnya.
Penurunan kemampuan dasar ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan pembelajaran selama masa pandemi yang menyebabkan proses belajar tidak berjalan optimal. Akibatnya, banyak siswa mengalami kesenjangan dalam penguasaan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung.
Pemerintah kini menjadikan pemulihan literasi dan numerasi sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan. Upaya ini difokuskan pada penguatan fondasi di pendidikan dasar agar siswa memiliki kemampuan dasar yang kuat sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Langkah yang dilakukan meliputi peningkatan kualitas pembelajaran di kelas, penguatan peran guru, serta penerapan metode belajar yang lebih adaptif dan efektif. Dengan strategi ini, diharapkan kemampuan literasi dan numerasi siswa dapat segera pulih dan tidak menghambat perkembangan akademik mereka di masa depan.


















