Kasus video viral siswa SMAN 1 Purwakarta yang mengolok seorang guru perempuan berujung pada sanksi tegas dari sekolah. Sebanyak 9 siswa dijatuhi skorsing selama 19 hari setelah terekam mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru di dalam kelas.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai tindakan tersebut jelas merupakan pelanggaran etika dan bentuk perundungan yang tidak bisa dibenarkan. Namun, FSGI mengingatkan bahwa skorsing 19 hari berpotensi mengorbankan hak pendidikan para siswa. Sekjen FSGI, Retno Listyarti, menjelaskan bahwa 19 hari kerja efektif setara dengan kurang lebih satu bulan penuh kegiatan belajar mengajar.
“Artinya, sembilan siswa ini berisiko tertinggal materi pelajaran, bahkan kehilangan kesempatan mengikuti ulangan harian,” ujar Retno, Senin (20/4/2026), seraya mempertanyakan apakah sekolah menyiapkan PJJ atau ulangan susulan selama masa skorsing. Ia mengingatkan prinsip “kepentingan terbaik bagi anak” dalam UU Perlindungan Anak serta menyoroti bahwa dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 dan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tidak diatur secara eksplisit soal sanksi skorsing bagi peserta didik.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong alternatif sanksi yang dinilai lebih mendidik. Ia mengusulkan agar para siswa tidak “dirumahkan” selama 19 hari, melainkan diberikan hukuman kerja sosial di lingkungan sekolah.
“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran. Mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah. Menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet. Ini yang saya sarankan,” ucap Dedi, Sabtu, seraya menilai kerja sosial lebih efektif daripada skorsing yang menjauhkan siswa dari lingkungan belajar.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menyebut sekolah sudah memanggil para siswa dan orangtuanya. Para siswa mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan atas tindakan spontan tersebut. Kejadian ini juga menjadi momen evaluasi penggunaan ponsel di sekolah karena ekspresi siswa di era digital dinilai sangat dipengaruhi budaya gawai.















