Di tengah derasnya arus konten viral, kisah seorang siswa SMP di Sumedang ini mengundang haru sekaligus perdebatan. Seorang pelajar kelas 8 SMPN 1 Tanjungsari menjadi sorotan setelah video perpisahannya di sekolah menyebar luas di media sosial. Banyak yang menduga ia menjadi korban eksploitasi karena memilih berhenti sekolah demi membantu sang ayah mencari nafkah. Namun, remaja 14 tahun ini justru menegaskan bahwa keputusan menanggalkan seragam sekolah adalah pilihannya sendiri, tanpa paksaan dari siapa pun.
Dalam wawancara di rumahnya, ia menceritakan bagaimana melihat ayahnya berjuang sendirian setelah perceraian orang tua dan terbeban utang yang baru diketahui kemudian. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia merasa punya tanggung jawab moral untuk ikut menopang ekonomi keluarga. Setiap hari, dari sekitar pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, ia ikut berjualan fried chicken dan tahu crispy di kawasan Alun-alun Tanjungsari. Baginya, rasa lelah di jalan lebih ringan dibanding perih melihat ayah bekerja sendirian.
Sang ayah, Imam Agus Faisal, menegaskan bahwa ia tidak pernah menyuruh anaknya berhenti sekolah dan justru sempat melarang keputusan itu. Ia tetap ingin pendidikan anak-anaknya terjaga meski kondisi keuangan keluarga terpukul akibat tumpukan utang. Narasi eksploitasi pun dibantah pemerintah daerah. Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, datang langsung mengunjungi keluarga dan memastikan hak pendidikan sang siswa tidak akan putus. Pemerintah daerah menegaskan, anak tersebut akan kembali ke bangku sekolah dan keluarga akan diupayakan masuk ke Program Keluarga Harapan (PKH) untuk membantu meringankan beban ekonomi.
Di sisi lain, dukungan moral dari teman-teman sekolah mengalir deras. Merekalah yang pertama kali memviralkan momen perpisahan di kelas dengan harapan ada pintu bantuan yang terbuka. Di balik linimasa yang penuh komentar, kisah ini mengingatkan bahwa di banyak rumah, anak-anak kadang mengambil keputusan dewasa sebelum waktunya, dan peran negara serta masyarakat adalah memastikan mereka tetap mendapatkan hak atas pendidikan dan masa depan yang layak.















