BATAM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pemulihan satuan pendidikan yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menggelar Penguatan Program Revitalisasi melalui Sarana dan Peralatan Pembelajaran SMK Berbasis Industri di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Kegiatan yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 ini diikuti oleh 131 kepala sekolah dan wakil kepala sekolah SMK dari wilayah terdampak bencana bersama sejumlah SMK di Kota Batam.
Percepat Pemulihan SMK Pascabencana
Program ini bertujuan mempercepat pemulihan sarana dan prasarana SMK sekaligus memastikan fasilitas pembelajaran selaras dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa pembaruan fasilitas pembelajaran harus mengikuti perkembangan teknologi di dunia industri.
“Jangan sampai siswa kita belajar menggunakan teknologi masa lalu, lalu diminta bekerja di industri masa depan. Kesenjangan ini yang harus kita pangkas melalui revitalisasi, baik sarana dan prasarana maupun sistem pembelajaran yang semakin tepat sasaran,” tegas Tatang.
Ia juga mengajak seluruh SMK untuk menjalankan tata kelola sekolah secara profesional dan berintegritas agar mampu menjaga kepercayaan dunia industri.
Menurutnya, SMK Indonesia harus mampu tumbuh bersama industri dan menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Batam Dipilih karena Industri yang Berkembang Pesat
Kota Batam dipilih sebagai lokasi benchmarking karena memiliki perkembangan industri yang sangat pesat, mulai dari sektor:
- Manufaktur.
- Elektronik.
- Maritim.
- Ekonomi digital.
Selain itu, minat masyarakat Kepulauan Riau untuk melanjutkan pendidikan ke SMK juga terus meningkat. Pada tahun 2026, sekitar 62 persen peserta didik di provinsi tersebut memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang SMK.
131 SMK Terima Bantuan Revitalisasi
Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan bahwa bantuan revitalisasi telah disalurkan kepada 131 SMK yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Bantuan tersebut tidak hanya mencakup perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga pengadaan sarana serta peralatan praktik yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Arie menekankan pentingnya memilih peralatan praktik yang:
- Sesuai dengan kompetensi keahlian sekolah.
- Relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
- Menggunakan teknologi yang setara dengan standar industri.
“Tugas dari teman-teman yang hadir pada hari ini adalah melihat langsung bagaimana alat praktik digunakan di industri. Harapannya, lulusan SMK yang dihasilkan sekolah-sekolah di daerah terdampak bencana tersebut sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Arie.
Kolaborasi Pemerintah dan Industri
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Barat, Habibul Fuadi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan benchmarking tersebut.
Menurutnya, program ini menunjukkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana.
Sebagai bagian dari kegiatan, Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan mitra industri juga melakukan penandatanganan komitmen kerja sama untuk memperkuat sinergi dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan SMK yang lebih siap bekerja, memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri, dan mampu mendukung pembangunan ekonomi nasional.









