Nama Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau sering dianggap merujuk pada gunung yang sama. Padahal, keduanya merupakan gunung yang berbeda. Meski begitu, sejarah keduanya memang saling berkaitan dan bermula dari kawasan Krakatau Purba di Selat Sunda.
Krakatau Purba diperkirakan mengalami erupsi besar sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi. Letusan tersebut menyebabkan bagian puncak gunung runtuh dan membentuk kaldera. Sebagian tubuh gunung yang tersisa kemudian membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang.
Aktivitas vulkanik berikutnya melahirkan Gunung Krakatau dengan tiga puncak utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Namun, letusan dahsyat pada 1883 menghancurkan sebagian besar gunung tersebut. Puncak Danan dan Perbuwatan hancur, sedangkan Rakata hanya tersisa sebagian.
Bagaimana Anak Krakatau Terbentuk?
Setelah letusan besar 1883, gunung baru kemudian tumbuh di tepi kaldera yang terbentuk akibat letusan tersebut. Gunung inilah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Anak Krakatau terbentuk di kedalaman sekitar 200–300 meter di kawasan kaldera 1883. Gunung tersebut mulai mengalami erupsi pada 1927 dan kemudian muncul di atas permukaan laut pada 1929.
Dengan demikian, secara sederhana:
- Krakatau adalah gunung yang mengalami letusan besar pada 1883.
- Anak Krakatau merupakan gunung baru yang tumbuh setelah terbentuknya kaldera akibat letusan 1883.
- Keduanya berada di kawasan yang sama dan memiliki hubungan sejarah melalui Krakatau Purba.
Perbedaan Aktivitas Erupsi
Letusan Krakatau pada 1883 dikenal sangat dahsyat. Gunung tersebut melontarkan sekitar 12–20 kilometer kubik material vulkanik. Suara letusannya bahkan dilaporkan terdengar hingga Pulau Rodriguez di Mauritius, Samudra Hindia.
Sementara itu, Anak Krakatau memiliki karakter aktivitas yang berbeda. Sejak kembali aktif pada 2018, gunung ini mengalami periode erupsi Strombolian, yaitu erupsi yang ditandai magma relatif encer serta pelepasan gas secara terputus-putus.
Material yang dapat dikeluarkan dalam periode tersebut antara lain lava, bom magma, tephra, abu, dan gas vulkanik. Pada September 2026, aktivitas erupsi Strombolian Anak Krakatau juga masih tercatat.
Sama-Sama Pernah Berkaitan dengan Tsunami
Krakatau dan Anak Krakatau juga memiliki catatan penting terkait tsunami.
Pada 1883, arus piroklastik akibat letusan Krakatau bergerak ke laut dan mendorong volume air hingga menghasilkan tsunami yang diperkirakan mencapai 40 meter. Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 38.000 orang meninggal dunia.
Sementara pada 22 Desember 2018, tsunami terjadi akibat runtuhnya bagian tubuh Anak Krakatau. Di sekitar gunung, gelombang mencapai sekitar 80 meter, sedangkan di pesisir Banten dan Lampung tercatat mencapai sekitar 13 meter.
Peristiwa tersebut menyebabkan 437 orang meninggal dunia, 14.059 orang terluka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal. Lebih dari separuh massa Pulau Anak Krakatau juga hilang akibat keruntuhan tersebut.
Jadi, Apa Perbedaan Utamanya?
Meski namanya hampir sama, Gunung Krakatau dan Anak Krakatau bukan gunung yang sama. Krakatau merupakan gunung yang mengalami kehancuran besar dalam erupsi 1883, sedangkan Anak Krakatau tumbuh kemudian di dalam kawasan kaldera yang terbentuk akibat letusan tersebut.
Sejarah keduanya menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di Selat Sunda memiliki dinamika yang panjang. Karena itu, pemantauan aktivitas vulkanik dan informasi resmi dari lembaga berwenang menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar Selat Sunda.
Krakatau adalah bagian dari sejarah letusan besar dunia, sementara Anak Krakatau merupakan “generasi baru” yang terus tumbuh dan aktif hingga sekarang.








