Jakarta — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, tidak hanya membahas isu ekonomi dan politik global. Pendidikan, beasiswa, riset, inovasi, hingga pendidikan anak usia dini (PAUD) turut menjadi bagian penting dalam Deklarasi New Delhi yang diadopsi negara-negara anggota BRICS.
KTT BRICS 2026 berlangsung pada 12-13 September 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi. Presiden Prabowo Subianto turut hadir dalam pertemuan tersebut. Saat ini BRICS memiliki 11 negara anggota, termasuk Indonesia.
Beasiswa Sarjana hingga Pascasarjana Jadi Perhatian
Salah satu poin penting dalam Deklarasi New Delhi adalah penguatan kerja sama pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Negara-negara BRICS mendorong kolaborasi untuk meningkatkan kualitas serta akses pendidikan. Kerja sama tersebut mencakup program pertukaran pelajar dan beasiswa untuk jenjang sarjana maupun pascasarjana, termasuk bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika atau STEM.
Kerja sama pendidikan diharapkan tidak hanya memperluas kesempatan belajar, tetapi juga membantu negara-negara BRICS menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja di masa depan.
Pemuda BRICS Didorong Aktif dalam Inovasi
Deklarasi tersebut juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda. Negara-negara BRICS mendorong kerja sama pemuda dalam bidang pendidikan, pelatihan, keterampilan, kewirausahaan, sains, teknologi, inovasi, serta partisipasi sosial dan budaya.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpemuda dari negara anggota BRICS.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi membangun SDM yang mampu menciptakan inovasi dan peluang kerja.
BRICS Network University Perkuat Kolaborasi Kampus
Kerja sama pendidikan tinggi juga mendapat perhatian melalui BRICS Network University.
Jaringan tersebut menjadi wadah kolaborasi berbagai perguruan tinggi dari negara-negara BRICS. Fokusnya mencakup kerja sama akademik dan penelitian, program bersama, mobilitas mahasiswa maupun akademisi, serta pertukaran pengetahuan lintas disiplin.
Penguatan jaringan perguruan tinggi ini membuka peluang lebih besar bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk terlibat dalam kerja sama internasional.
PAUD hingga Literasi Dasar Ikut Dibahas
Menariknya, perhatian BRICS tidak hanya tertuju pada pendidikan tinggi. Pengasuhan dan Pendidikan Anak Usia Dini (Early Childhood Care and Education/ECCE) juga masuk dalam Deklarasi New Delhi.
Negara-negara BRICS mendorong pertukaran praktik terbaik dalam pendidikan anak usia dini serta penguatan literasi dan numerasi dasar (Foundational Literacy and Numeracy/FLN).
Artinya, pembangunan pendidikan dipandang perlu dimulai sejak tahap paling awal. Fondasi kemampuan membaca, berhitung, dan perkembangan anak menjadi bagian dari kerja sama pendidikan antarnegara BRICS.
AI dalam Pendidikan Harus Aman dan Berpusat pada Manusia
Perkembangan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI), juga menjadi bagian dari pembahasan.
Deklarasi New Delhi mendorong pemanfaatan teknologi baru dalam pendidikan secara aman, etis, dan berpusat pada manusia. Selain itu, literasi digital, pengakuan kesetaraan kualifikasi, mobilitas akademik dan profesional, serta penguatan kemitraan antarlembaga juga menjadi perhatian.
Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang yang ingin dihadapi bersama oleh negara-negara BRICS.
Indonesia Tawarkan Fasilitas Riset BRIN
Indonesia juga membawa kontribusi dalam kerja sama pendidikan dan penelitian. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pemanfaatan infrastruktur serta fasilitas riset unggulan Indonesia kepada para peneliti, perguruan tinggi, industri, dan periset dari negara-negara anggota BRICS.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat mobilitas peneliti sekaligus menghasilkan kolaborasi riset yang lebih konkret.
Sebelumnya, BRIN juga telah menyiapkan sejumlah aktivitas penelitian dan pengembangan kapasitas SDM untuk dikolaborasikan dengan negara-negara BRICS, termasuk penelitian astrofisika, pelatihan geologi untuk mitigasi bencana, serta pelatihan biologi struktural keanekaragaman hayati Indonesia.
Pendidikan Jadi Investasi SDM Negara BRICS
Berbagai poin dalam Deklarasi New Delhi memperlihatkan bahwa kerja sama BRICS semakin luas, termasuk dalam bidang pendidikan dan pengembangan SDM.
Mulai dari beasiswa sarjana dan pascasarjana, pertukaran mahasiswa, kolaborasi perguruan tinggi, penelitian, keterampilan pemuda, PAUD, literasi dasar hingga pemanfaatan AI dalam pendidikan menjadi bagian dari agenda kerja sama.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam BRICS juga membuka peluang untuk memperluas jaringan pendidikan dan riset internasional. Kolaborasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa, akademisi, dan peneliti Indonesia untuk membangun hubungan lebih kuat dengan institusi dari negara-negara BRICS.









