Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) tidak selalu membutuhkan laboratorium dengan peralatan canggih. Siswa UPT SMP Negeri 1 Medan membuktikan bahwa lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber ide untuk menghasilkan inovasi.
Melalui karya ilmiah yang dikembangkan dari persoalan lingkungan, siswa SMPN 1 Medan berhasil meraih Gold Medal dalam Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Penghargaan tersebut diraih melalui proyek Durabata, yakni inovasi batako yang memanfaatkan limbah kulit durian dan abu sekam padi.
Kulit Durian Diubah Menjadi Batako Ramah Lingkungan
Salah satu anggota tim karya ilmiah, Aira Haryono, menjelaskan bahwa ide Durabata berawal dari banyaknya limbah kulit durian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Tim kemudian mencoba mengolah kulit durian bersama abu sekam padi menjadi bahan pembuatan batako. Bagi para siswa, proses tersebut bukan hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga menjadi pengalaman langsung dalam menerapkan konsep STEM.
Mereka belajar mulai dari mengidentifikasi masalah, mencari alternatif solusi, melakukan eksperimen hingga menghasilkan sebuah produk yang memiliki nilai guna.
Inovasi Lain Manfaatkan Buah Pohon Mangrove
Selain Durabata, siswa SMPN 1 Medan juga mengembangkan inovasi lain melalui tim bernama Milea, yang memanfaatkan potensi buah pedada dari pohon mangrove.
Buah pedada yang dinilai belum banyak dimanfaatkan diolah menjadi minuman dengan konsep seperti milk tea. Dalam prosesnya, buah tersebut dikupas, dicuci, dipotong, direbus, kemudian disaring untuk mengambil ekstraknya. Ekstrak tersebut selanjutnya dicampur dengan susu kedelai, daun pandan sebagai pewarna alami, dan stevia sebagai pemanis.
Tim Milea juga melihat peluang agar inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis, misalnya dalam bentuk bubuk, sekaligus berpotensi mendukung kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir.
Raih Penghargaan di Dua Ajang Internasional
Prestasi siswa SMPN 1 Medan tidak hanya datang dari MTE 2026. Proyek yang dikembangkan dari potensi buah mangrove tersebut juga mendapatkan sertifikat penghargaan pada 10th World Young Inventors Exhibition 2026.
Kedua ajang tersebut berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Prestasi ini menunjukkan bagaimana persoalan yang ditemukan siswa di lingkungan sekitar dapat dikembangkan menjadi gagasan penelitian dan inovasi yang dibawa ke tingkat internasional.
Sekolah Beri Ruang untuk Penelitian Siswa
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan sekolah. Guru pendamping kegiatan penelitian ilmiah remaja UPT SMP Negeri 1 Medan, Malahayati, mengatakan sekolah memberikan waktu dan ruang kepada siswa untuk melakukan berbagai aktivitas penelitian serta bekerja sama dengan orang tua.
Menurutnya, STEM penting dikembangkan dalam pembelajaran karena dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis sekaligus menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti juga mengapresiasi kreativitas siswa SMPN 1 Medan. Ia menilai pembelajaran yang dekat dengan kehidupan dapat mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi.
Melalui STEM, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diajak melihat persoalan di sekitar, melakukan penelitian, mencoba berbagai solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan serta masyarakat.









