Pemulihan sektor pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berjalan setelah gempa bumi yang melanda Pulau Flores sejak 15 Agustus 2026. Hingga pertengahan September, sebanyak 487 satuan pendidikan yang sebelumnya terdampak bencana telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka secara normal di ruang kelas.
Data tersebut disampaikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berdasarkan pemantauan hingga 10 September 2026. Secara keseluruhan, terdapat 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK/SLB yang terdampak di tujuh kabupaten.
1.960 Sekolah Masih Gunakan Moda Darurat
Meski ratusan sekolah sudah kembali menggunakan ruang kelas, sebagian besar satuan pendidikan terdampak masih menjalankan pembelajaran dalam kondisi darurat.
Dari total 2.447 satuan pendidikan terdampak, sebanyak 1.960 sekolah masih melaksanakan kegiatan belajar di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara. Pemerintah terus melakukan pemulihan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah.
Pembelajaran tatap muka terbatas telah mulai dilakukan sejak akhir Agustus hingga awal September. Dalam pelaksanaannya, siswa kelas 6, 9, dan 12 mendapatkan prioritas untuk mengikuti pembelajaran tatap muka sebagai bagian dari persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan pada Oktober 2026.
287 Ribu Siswa Terdampak
Gempa tersebut memberikan dampak besar terhadap komunitas pendidikan. Berdasarkan data yang dihimpun hingga 10 September, sebanyak 287.864 peserta didik dan 32.585 guru serta tenaga kependidikan terdampak langsung.
Sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan juga sempat berada di lokasi pengungsian, terdiri dari 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan. Selain itu, tercatat tujuh warga satuan pendidikan meninggal dunia, yaitu enam peserta didik dan satu guru.
Dari sisi infrastruktur, 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat, sedangkan 8.728 ruang kelas dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan mengalami kerusakan. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan.
Pemerintah Mulai Bangun Ruang Kelas Sementara
Untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, pemerintah mulai memperkuat fasilitas belajar sementara. Kemendikdasmen melaporkan pembangunan 672 Ruang Kelas Sementara (RKS) dengan total anggaran sekitar Rp3,5 miliar.
Selain itu, bantuan revitalisasi tahap pertama mulai diberikan kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp50 miliar. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Keselamatan dan Pemulihan Psikologis Jadi Prioritas
Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya berfokus pada kembalinya kegiatan belajar mengajar. Keselamatan peserta didik dan guru, fleksibilitas pembelajaran, serta dukungan psikososial menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan pendidikan pascabencana.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah diberikan ruang untuk menyesuaikan metode dan waktu pembelajaran berdasarkan kondisi di lapangan. Pemerintah bersama pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan agar proses pemulihan dapat berjalan secara bertahap.
Kembalinya 487 satuan pendidikan ke pembelajaran tatap muka menjadi salah satu perkembangan dalam proses pemulihan pendidikan NTT. Sementara itu, penanganan terhadap 1.960 sekolah yang masih belajar dalam kondisi darurat terus dilakukan agar kegiatan belajar dapat kembali berlangsung secara aman dan layak.








