Ni Wayan Nayaka Sanjiwani atau yang akrab disapa Naya memiliki pengalaman unik selama menempuh pendidikan tinggi. Ia merupakan mahasiswa beragama Hindu yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah perguruan tinggi negeri berbasis Islam.
Naya tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora. Ia memilih jurusan tersebut karena memiliki ketertarikan terhadap profesi guru dan melihat ilmu perpustakaan sebagai salah satu langkah untuk mendukung cita-citanya.
Sempat Khawatir Akan Dikucilkan
Sebelum menjalani kehidupan kampus, Naya sempat memiliki kekhawatiran karena dirinya berasal dari latar belakang agama yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa di lingkungan UIN Jakarta.
Kekhawatiran tersebut salah satunya muncul ketika mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Dalam salah satu tugas, Naya harus mengenakan hijab untuk membuat video perkenalan.
Pada awalnya, ia mengaku belum terbiasa menggunakan hijab. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses adaptasinya sebagai mahasiswa di lingkungan kampus Islam.
Teman-Teman Justru Membantu
Kekhawatiran Naya ternyata tidak menjadi kenyataan. Ia justru mendapatkan dukungan dari teman-temannya.
Ketika belum mengetahui cara memakai kerudung dengan peniti, teman-temannya langsung membantu. Dukungan tersebut membuat Naya merasa diterima dan tidak menjalani kehidupan perkuliahan seorang diri.
Naya bahkan mengaku sempat berpikir dirinya mungkin akan kesulitan mendapatkan teman karena berbeda agama. Setelah menjalani perkuliahan, pengalaman yang dirasakannya justru berbeda dari kekhawatiran tersebut.
Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Agama Islam
Menjadi mahasiswa di UIN Jakarta membuat Naya mendapatkan pengalaman akademik yang sebelumnya tidak banyak ia bayangkan. Ia mengikuti pembelajaran yang berkaitan dengan bahasa Arab dan ilmu agama Islam.
Naya juga mendapat bantuan dari teman-temannya ketika harus memahami materi keislaman. Dalam beberapa kegiatan akademik, ia juga mengikuti tugas hafalan surat pendek, termasuk Al-Fatihah, dengan dukungan dari dosen.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi Naya terhadap lingkungan akademik yang memiliki karakter keislaman.
Perbedaan Agama Bukan Penghalang untuk Belajar
Bagi Naya, kehidupan perkuliahan di UIN Jakarta memberikan pengalaman tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Ia mengaku bersyukur mendapatkan lingkungan pertemanan yang terbuka. Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi penghalang untuk berteman maupun menuntut ilmu.
Dalam kesehariannya, Naya bahkan mulai terbiasa mendengar dan menggunakan sejumlah ungkapan yang umum digunakan dalam percakapan umat Islam, seperti insyaallah, assalamualaikum, dan astaghfirullah.
UIN Jakarta Buka Akses bagi Mahasiswa Non-Muslim
Kisah Naya juga menunjukkan bahwa UIN Jakarta memiliki mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. UIN Jakarta sebelumnya menyatakan dirinya sebagai kampus yang inklusif dan membuka kesempatan bagi mahasiswa non-Muslim untuk belajar tanpa harus mengubah keyakinannya.
Pengalaman Naya menjadi salah satu gambaran kehidupan akademik yang mempertemukan mahasiswa dari latar belakang berbeda dalam satu lingkungan pendidikan.
Bagi Naya, kuliah di UIN Jakarta bukan hanya tentang mendapatkan ilmu dari bangku perkuliahan, tetapi juga kesempatan untuk belajar memahami perbedaan, membangun pertemanan, dan beradaptasi dengan lingkungan yang sebelumnya tidak familiar baginya.








