Jakarta – Pemulihan layanan pendidikan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dilakukan setelah gempa bumi yang melanda wilayah tersebut. Hingga 10 September 2026, sebanyak 2.447 satuan pendidikan dilaporkan telah kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran.
Namun, pemulihan pendidikan tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki bangunan sekolah. Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana.
Pendampingan Psikososial di Sekolah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut pendampingan psikososial telah dilakukan di 75 sekolah melalui kerja sama dengan berbagai mitra.
Pendampingan tersebut ditujukan untuk membantu warga sekolah menghadapi dampak psikologis setelah bencana sekaligus membangun kembali semangat agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara bertahap.
Untuk memperluas layanan, Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah. Mereka diproyeksikan dapat mendukung sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka, dan Ende.
Ribuan Siswa Kembali Belajar
Berdasarkan data Kemendikdasmen, gempa berdampak pada 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan juga sempat berada di pengungsian.
Dari 2.447 satuan pendidikan yang sudah kembali menggelar pembelajaran, sebanyak 487 sekolah telah dapat melaksanakan kegiatan belajar secara normal di ruang kelas. Sementara itu, 1.960 sekolah lainnya masih menggunakan tenda, ruang kelas darurat, atau lokasi alternatif.
672 Ruang Kelas Sementara Disediakan
Untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan, pemerintah menyediakan 672 unit Ruang Kelas Sementara (RKS). Fasilitas tersebut terdiri atas 194 RKS untuk PAUD, 12 untuk SLB, 372 untuk SMK, 65 untuk SMP, dan 29 untuk SMA.
Selain itu, bantuan revitalisasi tahap pertama mulai disalurkan kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp50 miliar. Bantuan tersebut mencakup sejumlah jenjang pendidikan, sementara kebutuhan revitalisasi SD, SMP, dan SMA masih melalui proses verifikasi dan validasi.
Pemulihan Tidak Berhenti pada Bangunan
Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana harus mencakup aspek fisik sekaligus psikososial. Sekolah perlu kembali menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan memulihkan diri setelah mengalami bencana.
Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama pemerintah, sekolah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, serta berbagai mitra lainnya. Dengan dukungan tersebut, proses pembelajaran di Flores diharapkan dapat terus berangsur menuju kondisi yang lebih normal.



