Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meski sejumlah sekolah harus diliburkan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan bahwa program MBG tetap berjalan dan menjadi salah satu prioritas pemerintah. Namun, ia mengakui belum mengetahui secara rinci mekanisme penyaluran makanan bagi siswa yang sementara waktu tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. Pernyataan tersebut disampaikan Rudy seusai mengikuti rapat bersama Komisi II DPR RI di Jakarta pada 15 September 2026.
Sekolah Menunggu Kualitas Udara Membaik
Kondisi kabut asap membuat sejumlah sekolah di Kalimantan Timur menerapkan pembelajaran jarak jauh atau meliburkan kegiatan tatap muka. Pemerintah daerah menjadikan kondisi kualitas udara sebagai salah satu pertimbangan sebelum siswa kembali belajar di sekolah.
Di Samarinda, misalnya, seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD hingga SMP mulai menerapkan PJJ pada 17–19 September 2026 setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap siswa dan tenaga kependidikan.
Rudy juga menyatakan sekolah akan kembali menjalankan pembelajaran tatap muka setelah kondisi indeks kualitas udara dinilai sehat. Siswa juga diimbau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Karhutla Masih Dipantau
Di sisi lain, penanganan karhutla di Kaltim terus dilakukan. BPBD Kaltim pada 17 September melaporkan pemantauan terhadap 134 titik panas yang berkontribusi terhadap penyebaran kabut asap di sejumlah wilayah. Pergerakan asap juga dipengaruhi arah angin dan kondisi atmosfer.
Pemerintah provinsi bersama BNPB, BPBD kabupaten/kota, serta instansi terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan titik api. Operasi udara menggunakan helikopter water bombing juga sebelumnya diterapkan secara bergilir untuk membantu menekan penyebaran karhutla.
Mekanisme MBG Masih Jadi Perhatian
Meski MBG disebut tetap menjadi prioritas, mekanisme distribusinya ketika siswa tidak berada di sekolah masih menjadi persoalan yang perlu diperjelas. Rudy mengakui belum mengetahui secara pasti bagaimana teknis pengambilan atau penyaluran makanan bagi siswa di sekolah yang sedang diliburkan.
Dengan kondisi tersebut, pelaksanaan MBG di tengah gangguan kabut asap menjadi bagian dari penyesuaian yang perlu dilakukan pemerintah. Di satu sisi, keselamatan siswa menjadi pertimbangan dalam penerapan pembelajaran jarak jauh, sementara di sisi lain pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik tetap menjadi perhatian.








