Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Sulawesi Selatan tidak hanya berdampak pada antrean panjang di sejumlah SPBU. Aktivitas pendidikan di Kota Makassar juga ikut terdampak setelah sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Untuk jenjang TK, SD, dan SMP di Makassar, pembelajaran daring diberlakukan pada 12–19 September 2026. Sementara itu, jenjang SMA, SMK, dan SLB di tingkat provinsi menerapkan pembelajaran daring pada 14–18 September 2026 sebagai langkah sementara menghadapi keterbatasan BBM.
Orang Tua Harus Membagi Waktu
Perubahan pembelajaran dari sekolah ke rumah membuat orang tua memiliki tanggung jawab tambahan. Mereka harus memastikan anak mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, sekaligus tetap menjalankan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
Salah seorang orang tua, Lina Herlina, mengungkapkan bahwa pembelajaran daring membuat waktu antara pekerjaan dan pendampingan anak harus dibagi. Saat anak bersekolah secara tatap muka, orang tua memiliki waktu yang lebih leluasa untuk bekerja atau menjalankan kegiatan lainnya.
Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh orang tua yang bekerja. Mereka tetap harus menyelesaikan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama perlu memastikan anak tidak tertinggal dalam mengikuti pembelajaran.
Anak Lebih Mudah Bosan
Tantangan PJJ tidak hanya dirasakan oleh orang tua. Sebagian anak juga mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi ketika belajar dari rumah.
Wiwi Amaluddin, salah seorang ibu yang bekerja dan memiliki anak kelas 1 SD, mengatakan aktivitas pekerjaannya ikut terganggu karena harus mendampingi anak belajar. Ia juga melihat anaknya lebih mudah bosan dan kehilangan fokus ketika mengikuti pembelajaran secara daring.
Menurutnya, anak lebih bersemangat ketika kembali mengikuti pembelajaran secara tatap muka karena dapat berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya.
Sekolah Berharap Kondisi Segera Normal
Dari sisi sekolah, pembelajaran tetap diupayakan berjalan meskipun siswa berada di rumah. Kepala SMP Negeri 6 Makassar Andi Mindrawati mengatakan guru tetap memantau proses belajar siswa selama PJJ, sedangkan tenaga kependidikan menjalankan tugas secara terbatas di sekolah.
Pihak sekolah berharap kondisi BBM segera kembali normal sehingga kegiatan belajar dapat kembali dilakukan secara tatap muka. Menurut pihak sekolah, interaksi langsung antara guru dan siswa tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, pemerintah daerah sebelumnya menyatakan kebijakan PJJ bersifat sementara dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. Persoalan BBM sendiri kemudian dilaporkan telah mulai teratasi pada 17 September 2026.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa gangguan pada sektor energi dapat berdampak hingga ke aktivitas pendidikan dan rutinitas keluarga. Bagi orang tua, kembalinya pembelajaran tatap muka berarti anak dapat kembali belajar di sekolah sementara mereka dapat menjalankan pekerjaan dan aktivitas harian dengan lebih leluasa.








