Krisis iklim semakin menjadi tantangan bagi keberlangsungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), terutama di wilayah yang rentan terhadap banjir, kekeringan, gelombang panas, dan bencana alam lainnya. Dampak perubahan iklim tidak hanya mengancam kesehatan anak, tetapi juga berpotensi mengganggu proses belajar serta akses terhadap layanan pendidikan dan pengasuhan.
Para pemangku kepentingan pendidikan di kawasan Asia-Pasifik mendorong penguatan pendanaan PAUD agar layanan bagi anak usia dini tetap berjalan di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim. Pendanaan yang memadai diperlukan untuk mendukung fasilitas belajar yang aman, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, dan memastikan anak-anak dari keluarga rentan tetap mendapatkan layanan berkualitas.
Isu tersebut dibahas dalam 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development yang berlangsung di Jakarta pada 19–22 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi internasional, dan mitra pembangunan untuk membahas penguatan layanan pengembangan anak usia dini yang tangguh terhadap perubahan iklim serta memiliki pendanaan berkelanjutan. <Cite refs={[“turn906592search5″,”turn906592search7”]}/>
1. Krisis Iklim Mengancam Akses Pendidikan Anak Usia Dini
Anak usia dini termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Banjir, badai, kekeringan, dan suhu ekstrem dapat mengganggu kesehatan, pemenuhan gizi, serta kegiatan belajar anak.
Ketika bencana terjadi, fasilitas PAUD dapat mengalami kerusakan atau terpaksa menghentikan kegiatan sementara. Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran, bermain, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Executive Director Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC), Evelyn Santiago, menyoroti bahwa bencana seperti banjir dan badai dapat menyebabkan pusat pengembangan anak usia dini ditutup sehingga kesempatan anak untuk bersekolah ikut terganggu.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak krisis iklim tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Gangguan terhadap layanan pendidikan juga dapat memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial-emosional anak, terutama bagi keluarga yang memiliki akses terbatas terhadap layanan dasar. <Cite refs={[“turn906592search3″,”turn906592search4″,”turn906592search5”]}/>
2. Pendanaan PAUD Perlu Diperkuat dan Berkelanjutan
Pendanaan menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan layanan PAUD dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Dukungan anggaran diperlukan untuk memperbaiki sarana pendidikan, meningkatkan keamanan lingkungan belajar, serta mempersiapkan satuan PAUD menghadapi bencana.
Director SEAMEO CECCEP, Prof. Evi Adriany, menilai bahwa pembiayaan pengembangan anak usia dini perlu dihubungkan dengan isu krisis iklim. Investasi pada PAUD dapat mendukung upaya membangun layanan yang lebih siap menghadapi gangguan lingkungan.
Sementara itu, Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Kemendikdasmen, Harris Iskandar, menekankan pentingnya pendanaan pendidikan dan pengasuhan anak sejak tahap awal kehidupan. Dukungan tersebut berperan dalam membangun fondasi kemampuan kognitif serta perkembangan sosial dan emosional anak.
Pendanaan yang berkelanjutan diharapkan tidak hanya bergantung pada satu sumber. Koordinasi antara pemerintah, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan mitra pembangunan diperlukan agar bantuan dapat menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. <Cite refs={[“turn906592search3″,”turn906592search5″,”turn906592search7”]}/>
3. Layanan PAUD Harus Memperhatikan Lima Aspek Perkembangan Anak
Pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas. Layanan PAUD perlu memperhatikan kebutuhan anak secara menyeluruh agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Kemendikdasmen menekankan pendekatan holistik yang mencakup lima aspek utama, yaitu:
- Pendidikan: menyediakan kegiatan belajar yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
- Pengasuhan: memberikan dukungan dan pendampingan yang aman bagi anak.
- Kesehatan: memastikan kebutuhan kesehatan anak mendapatkan perhatian.
- Gizi: mendukung pemenuhan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
- Perlindungan: menjaga anak dari kekerasan, risiko bencana, dan kondisi lingkungan yang membahayakan.
Pendekatan tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor karena kebutuhan anak tidak dapat dipenuhi oleh lembaga pendidikan saja.
Dalam menghadapi krisis iklim, kelima aspek tersebut perlu diperhatikan secara bersamaan. Misalnya, satuan PAUD tidak hanya membutuhkan ruang kelas yang aman dari banjir, tetapi juga perlu memastikan anak memperoleh makanan bergizi, akses kesehatan, pengasuhan yang memadai, dan perlindungan ketika terjadi keadaan darurat. <Cite refs={[“turn906592search3″,”turn906592search5”]}/>
4. Anak dari Keluarga Rentan Membutuhkan Dukungan Lebih Besar
Dampak krisis iklim tidak dirasakan secara merata oleh semua anak. Anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas dan mereka yang tinggal di daerah rawan bencana berpotensi menghadapi risiko lebih besar ketika layanan dasar terganggu.
Ketika fasilitas PAUD tidak dapat beroperasi, keluarga mungkin kesulitan mencari alternatif pengasuhan dan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat menambah beban orang tua, terutama mereka yang harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, kebijakan pendanaan PAUD perlu memperhatikan pemerataan akses. Dukungan afirmasi dapat diarahkan kepada satuan pendidikan di wilayah terpencil, pedesaan, serta daerah yang belum memperoleh layanan memadai.
Penguatan fasilitas pendidikan, bantuan bagi keluarga yang membutuhkan, dan kesiapan menghadapi bencana menjadi bagian dari upaya menjaga agar setiap anak tetap memperoleh kesempatan belajar yang layak. <Cite refs={[“turn906592search3″,”turn906592search5″,”turn906592search7”]}/>
5. Pemerintah Dorong PAUD yang Responsif terhadap Perubahan Iklim
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menekankan pentingnya kebijakan dan layanan PAUD yang responsif terhadap perubahan iklim serta didukung pembiayaan yang berkelanjutan dan terkoordinasi.
Menurutnya, penguatan layanan pendidikan anak usia dini perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antara perubahan lingkungan, kesehatan, gizi, perlindungan, dan akses pendidikan.
Di Indonesia, upaya penguatan layanan PAUD mencakup revitalisasi satuan pendidikan dan perluasan jangkauan Program Indonesia Pintar (PIP) agar dapat menjangkau anak pada jenjang PAUD. Pemerintah juga mendorong pelaksanaan wajib belajar 13 tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat akses pendidikan anak sekaligus mendukung tersedianya lingkungan belajar yang aman dan memadai. Namun, penguatan layanan di tengah krisis iklim tetap membutuhkan koordinasi antarsektor serta pendanaan yang berkesinambungan. <Cite refs={[“turn906592search5″,”turn906592search6”]}/>
6. Kerja Sama Regional untuk Menghadapi Krisis Iklim
Forum pembelajaran regional di Jakarta menjadi ruang bagi berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan membahas solusi dalam memperkuat sistem pengembangan anak usia dini.
Forum tersebut diselenggarakan oleh sejumlah pihak, termasuk ARNEC, Kemendikdasmen, Tanoto Foundation, SEAMEO CECCEP, dan Koalisi Nasional PAUD-HI. Agenda pembahasan mencakup pendidikan yang responsif terhadap iklim, pendanaan PAUD, perlindungan anak saat bencana, serta peluang dan risiko penggunaan teknologi digital.
Kerja sama regional dinilai penting karena dampak perubahan iklim melintasi batas negara dan dapat memengaruhi berbagai sistem layanan dasar. Pertukaran pengalaman memungkinkan para pemangku kepentingan mempelajari pendekatan yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan lahir langkah bersama untuk memperkuat ketahanan layanan PAUD, memperluas akses pembiayaan, dan memastikan kebutuhan anak tetap menjadi prioritas dalam kebijakan pendidikan dan iklim. <Cite refs={[“turn906592search5″,”turn906592search7”]}/>
Kesimpulan
Krisis iklim dapat mengancam akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan pengasuhan anak usia dini. Bencana seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas berpotensi mengganggu kegiatan belajar serta memperbesar kesenjangan layanan bagi anak dari keluarga rentan.
Karena itu, pendanaan PAUD perlu diperkuat melalui dukungan yang berkelanjutan, pemerataan fasilitas, dan koordinasi lintas sektor. Pendekatan holistik yang mencakup pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, dan perlindungan juga diperlukan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Penguatan PAUD yang responsif terhadap perubahan iklim menjadi bagian penting dalam menjaga hak anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang aman, berkualitas, dan berkeadilan.










