Penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin meluas di lingkungan pendidikan tinggi. Jika mahasiswa memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas kuliah, muncul pertanyaan lain: apakah dosen juga menggunakan teknologi serupa untuk menyusun soal ujian, memeriksa tugas, dan memberikan nilai?
Fenomena ini menjadi perhatian seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik. Teknologi tersebut menawarkan kemudahan untuk menyelesaikan pekerjaan administratif dan membantu proses pembelajaran. Namun, penggunaannya tetap memerlukan pengawasan agar penilaian akademik berjalan secara adil dan kualitas pembelajaran tetap terjaga.
Dalam laporan detikEdu yang terbit Jumat (23/10/2026), sejumlah akademisi membahas manfaat AI bagi pendidik sekaligus risiko ketika teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan peran guru atau dosen secara berlebihan. <Cite refs={[“turn283234view0”]}/>
1. AI Membantu Mengurangi Beban Administrasi Pendidik
Dosen dan guru memiliki berbagai tanggung jawab, mulai dari mengajar, menyusun materi, membuat soal, menyiapkan rubrik penilaian, hingga memeriksa hasil pekerjaan peserta didik.
Dr. Sabar Nurrahman, M.Pd.Si. dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menjelaskan bahwa AI dapat membantu pendidik mengatasi sebagian beban administratif. Pandangan tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk AI untuk Guru Sibuk: Modul Ajar, RPP, dan Administrasi Selesai dalam Hitungan Menit.
Menurut Sabar, beban administrasi yang besar dapat mengurangi waktu guru untuk mempersiapkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan bantuan AI, sebagian pekerjaan persiapan dapat dilakukan lebih efisien sehingga pendidik memiliki lebih banyak kesempatan untuk membimbing peserta didik.
2. Empat Pemanfaatan AI dalam Kegiatan Pembelajaran
Sabar menjelaskan sejumlah pemanfaatan AI yang dapat mendukung pekerjaan pendidik.
Pertama, menganalisis hasil belajar siswa. AI dapat membantu mengelompokkan capaian belajar peserta didik dan memberikan rekomendasi pendekatan pembelajaran atau remedial sesuai kebutuhan mereka.
Kedua, menyusun perangkat pembelajaran. AI dapat membantu merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP), membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta mengembangkan bahan ajar.
Ketiga, menyiapkan instrumen dan rubrik penilaian. Teknologi AI dapat membantu pendidik merancang soal, studi kasus, dan kriteria penilaian sebagai bahan awal yang kemudian diperiksa kembali oleh guru atau dosen.
Keempat, mendukung pembelajaran interaktif. AI dan perangkat digital dapat dimanfaatkan untuk membuat presentasi, kuis, peta pikiran, infografis, serta simulasi pembelajaran yang membantu menjelaskan konsep secara visual.
Pemanfaatan tersebut dapat meningkatkan efisiensi, tetapi hasil yang dibuat AI tetap perlu diperiksa agar sesuai dengan kurikulum, tingkat kemampuan peserta didik, dan tujuan pembelajaran. <Cite refs={[“turn283234view0”]}/>
3. Ketika AI Membuat Soal dan AI Lain Memberikan Nilai
Penggunaan AI di dunia akademik memunculkan kemungkinan terbentuknya siklus kerja yang sepenuhnya bergantung pada teknologi. Dalam ilustrasi yang dibahas pada laporan detikEdu, pengajar dapat menggunakan ChatGPT untuk merumuskan soal, mahasiswa menjawab dengan bantuan Perplexity, lalu Gemini digunakan untuk menghasilkan penilaian.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai peran manusia dalam proses pendidikan. Jika soal, jawaban, dan penilaian sama-sama dihasilkan dengan bantuan AI tanpa pemeriksaan yang memadai, proses belajar berisiko hanya menjadi pertukaran hasil antarmesin.
Dosen Digital Journalism Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Dr. Ignatius Haryanto Djoewanto, M.Hum., mengkritik penggunaan AI yang sampai menggantikan pekerjaan inti dosen, seperti menyusun rencana pembelajaran semester dan soal ujian.
Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu atau teman berdiskusi. Namun, pendidik tetap perlu menjalankan tanggung jawab akademik dan memastikan materi serta penilaian memiliki dasar yang jelas.
4. Dosen Soroti Risiko Hilangnya Orisinalitas Gagasan
Ignatius juga menyoroti risiko penggunaan AI yang berlebihan terhadap kemampuan mahasiswa dalam membangun gagasan sendiri.
Ia menemukan kasus mahasiswa yang menggunakan sumber referensi palsu atau menghasilkan tulisan dengan bahasa yang terkesan canggih, tetapi tidak mampu menjelaskan arti kalimat yang ditulisnya ketika ditanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tulisan yang terlihat rapi belum tentu mencerminkan pemahaman penulisnya. Dalam pendidikan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan tugas, tetapi juga harus mampu menjelaskan argumen, memeriksa sumber, dan mempertanggungjawabkan gagasan yang disampaikan.
Oleh sebab itu, penggunaan AI perlu diimbangi dengan kebiasaan membaca referensi asli, memeriksa keakuratan informasi, dan mengembangkan pemikiran secara mandiri.
5. Apakah Dosen Boleh Menggunakan AI untuk Mengoreksi Tugas?
AI dapat membantu dosen dalam proses penilaian, misalnya untuk mengelompokkan jawaban, memeriksa struktur tulisan, memberikan umpan balik awal, atau membandingkan jawaban dengan rubrik yang telah disiapkan.
Namun, bantuan tersebut tidak berarti seluruh keputusan penilaian sebaiknya diserahkan kepada mesin. AI dapat salah memahami konteks, mengabaikan unsur penting dalam jawaban, atau memberikan penilaian yang tidak konsisten.
Agar penggunaannya lebih bertanggung jawab, beberapa hal perlu diperhatikan:
- Dosen tetap memegang keputusan akhir. Hasil penilaian dari AI perlu ditinjau dan diverifikasi oleh pendidik.
- Kriteria penilaian harus jelas. Rubrik yang konsisten membantu menjaga keadilan bagi seluruh mahasiswa.
- Mahasiswa perlu mengetahui aturan penggunaan AI. Kampus sebaiknya menjelaskan batas pemanfaatan AI dalam tugas, ujian, dan proses penilaian.
- Data mahasiswa harus dilindungi. Informasi pribadi dan jawaban ujian tidak boleh dimasukkan ke layanan AI tanpa mempertimbangkan keamanan serta kebijakan yang berlaku.
- Penilaian harus mengukur pemahaman. Presentasi, diskusi, dan pertanyaan lanjutan dapat membantu dosen memastikan mahasiswa memahami pekerjaannya.
Dengan demikian, AI dapat digunakan untuk mendukung proses koreksi, tetapi pengawasan manusia tetap diperlukan agar penilaian sesuai dengan tujuan pembelajaran.
6. Menjaga Keseimbangan antara Teknologi dan Integritas Akademik
Perkembangan AI menuntut perguruan tinggi menyesuaikan metode pengajaran dan penilaian. Larangan menyeluruh terhadap teknologi belum tentu menjadi satu-satunya jawaban, sebab AI juga memiliki manfaat untuk membantu memahami materi dan meningkatkan efisiensi kerja.
Yang lebih penting adalah menetapkan batas penggunaan yang jelas dan menumbuhkan integritas akademik bagi mahasiswa maupun dosen.
Mahasiswa perlu bertanggung jawab atas isi tugas yang dikumpulkan. Sementara itu, dosen harus memastikan bahwa penggunaan AI tidak menghilangkan proses evaluasi yang seharusnya dilakukan secara profesional.
Perguruan tinggi juga dapat mengembangkan bentuk penilaian yang menekankan proses, seperti diskusi langsung, presentasi, praktik, dan kemampuan mempertahankan argumen. Cara tersebut membantu memastikan bahwa capaian akademik mencerminkan pemahaman, bukan sekadar kemampuan menghasilkan jawaban dengan bantuan teknologi.
Kesimpulan
Maraknya penggunaan AI di kampus memunculkan pertanyaan tentang peran teknologi dalam menyusun soal, mengerjakan tugas, hingga melakukan koreksi dan penilaian.
AI dapat membantu mengurangi beban administratif guru dan dosen, tetapi penggunaannya perlu dibatasi agar tidak menggantikan tanggung jawab profesional pendidik. Kritik akademisi juga menekankan pentingnya menjaga orisinalitas gagasan, keakuratan sumber, dan pemahaman mahasiswa.
Pada akhirnya, AI sebaiknya menjadi alat pendukung pendidikan. Dosen tetap perlu memastikan kualitas materi dan keadilan penilaian, sedangkan mahasiswa harus mampu memahami serta mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka.





