Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin meluas di dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Teknologi ini dimanfaatkan mahasiswa untuk mencari informasi dan menyelesaikan tugas, sementara dosen juga mulai menggunakannya untuk membantu pekerjaan akademik.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan penting: apakah dosen turut menggunakan AI untuk mengoreksi tugas dan memberikan nilai kepada mahasiswa? Jika penyusunan soal, pengerjaan tugas, hingga penilaian sama-sama melibatkan AI, bagaimana kampus memastikan proses pembelajaran tetap berkualitas?
Isu ini menjadi perhatian seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi AI dalam kegiatan belajar mengajar. <Cite refs={[“turn715835view0″,”turn715835search3”]}/>
AI Membantu Meringankan Beban Administrasi Pengajar
Dr Sabar Nurrahman, M.Pd.Si. dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan pengajar, terutama dalam mengurangi beban administrasi.
Guru dan dosen memiliki berbagai tanggung jawab, mulai dari menyiapkan materi, menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal, merancang rubrik penilaian, hingga memeriksa hasil pekerjaan peserta didik. Pemanfaatan AI dapat membantu mempercepat sebagian proses tersebut.
Menurut Sabar, AI dapat digunakan untuk menganalisis hasil ujian, memetakan kemampuan peserta didik, serta memberikan rekomendasi pembelajaran dan remedial sesuai kebutuhan.
Teknologi ini juga dapat membantu menyusun tujuan pembelajaran, kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta instrumen penilaian.
Beberapa perangkat AI, seperti Google NotebookLM, juga dapat membantu mengolah materi menjadi presentasi, peta pikiran, kuis, video, dan infografis. Meski demikian, hasil yang dibuat AI tetap perlu ditinjau oleh pengajar sebelum digunakan. <Cite refs={[“turn715835view0″,”turn715835search3”]}/>
Dosen Tetap Memegang Peran Penting dalam Penilaian
Pemanfaatan AI bukan berarti seluruh tanggung jawab dosen dapat dialihkan kepada mesin. Dosen tetap dibutuhkan untuk memastikan soal sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi yang diberikan akurat, dan penilaian mencerminkan pemahaman mahasiswa.
Dosen Program Studi Digital Journalism Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Dr Ignatius Haryanto Djoewanto, M.Hum., menyoroti risiko penggunaan AI secara berlebihan dalam kegiatan akademik.
Ia menilai penggunaan AI sebagai teman berdiskusi atau alat bantu masih dapat diterima. Namun, jika penyusunan rencana pembelajaran dan soal ujian sepenuhnya diserahkan kepada AI, peran dan tanggung jawab pengajar perlu dipertanyakan kembali.
Menurut Haryanto, proses akademik tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa menelusuri referensi, membaca sumber utama, membangun argumen, dan menghasilkan gagasan secara mandiri. <Cite refs={[“turn715835view0”]}/>
Risiko Jika AI Membuat Soal hingga Memberikan Nilai
Salah satu persoalan yang muncul adalah kemungkinan terbentuknya siklus penggunaan AI dalam proses pendidikan. Dosen dapat memakai AI untuk menyusun soal, mahasiswa menggunakan AI untuk menjawabnya, lalu AI kembali digunakan untuk membantu menilai jawaban tersebut.
Pola seperti ini berisiko mengurangi keterlibatan manusia dalam proses evaluasi apabila tidak disertai pengawasan yang memadai.
Penilaian akademik tidak cukup hanya memeriksa apakah jawaban terlihat rapi atau menggunakan bahasa yang meyakinkan. Pengajar juga perlu menilai ketepatan informasi, kualitas argumentasi, keaslian gagasan, serta kemampuan mahasiswa menjelaskan jawaban yang mereka berikan.
Karena itu, AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya penentu hasil penilaian. Keputusan akhir tetap memerlukan pertimbangan dan tanggung jawab pengajar. <Cite refs={[“turn715835view0″,”turn715835search3”]}/>
Referensi Palsu dan Jawaban yang Tidak Dipahami Mahasiswa
Haryanto mengungkapkan bahwa ia menemukan tugas mahasiswa yang menggunakan sumber referensi palsu atau bahasa yang terdengar canggih, tetapi tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh mahasiswa yang bersangkutan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tulisan yang tampak profesional belum tentu menunjukkan pemahaman yang mendalam. Mahasiswa tetap perlu mampu memeriksa kebenaran sumber, memahami isi tulisan, dan mempertanggungjawabkan argumen yang disampaikan.
Penggunaan AI tanpa pemeriksaan dapat membuat mahasiswa bergantung pada jawaban otomatis dan melewatkan proses belajar yang seharusnya melatih kemampuan berpikir kritis serta logika.
Oleh sebab itu, dosen dapat melengkapi penilaian tertulis dengan diskusi, presentasi, atau tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa benar-benar menguasai materi.
Kampus Perlu Menjaga Keseimbangan antara AI dan Integritas Akademik
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan AI secara bertanggung jawab di perguruan tinggi. Dalam pembahasan kerangka pemanfaatan AI generatif, pemerintah menekankan perlunya menjaga integritas akademik, transparansi, keamanan informasi, dan kendali manusia atas keputusan penting. <Cite refs={[“turn715835search3”]}/>
Dengan aturan penggunaan AI yang jelas, dosen dan mahasiswa dapat memahami kapan teknologi boleh digunakan, bagaimana hasilnya harus diperiksa, serta kapan proses akademik wajib dilakukan secara mandiri.
AI berpotensi membantu meningkatkan efisiensi pendidikan. Namun, teknologi ini tidak seharusnya menghilangkan proses membaca, menalar, berdiskusi, dan mengevaluasi yang menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah dosen menggunakan AI untuk mengoreksi tugas mahasiswa, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan tanpa mengurangi kualitas penilaian dan kemampuan berpikir manusia.










