Penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin melekat dalam kehidupan mahasiswa. Teknologi seperti ChatGPT dimanfaatkan untuk membantu mengerjakan tugas, menyusun proposal, mencari informasi, hingga menjawab pertanyaan perkuliahan. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan kekhawatiran ketika mahasiswa mulai merasa kesulitan menyelesaikan pekerjaan akademik tanpa bantuan AI.
Fenomena ini disoroti dalam laporan detikEdu yang terbit pada Jumat (23/10/2026). Sejumlah mahasiswa mengungkapkan bahwa penggunaan AI tidak selalu berawal dari keinginan mencari jalan pintas. Tumpukan tugas, tenggat waktu yang ketat, dan penilaian akademik yang dianggap kurang mendalam turut menjadi faktor yang mendorong mereka mengandalkan teknologi tersebut.
Di sisi lain, Rektor Universitas Pradita, Richardus Eko Indrajit, mengibaratkan hubungan manusia dengan AI seperti Tony Stark dan Jarvis dalam film Iron Man. AI dapat menjadi rekan kerja yang membantu manusia berdiskusi dan mengembangkan gagasan. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. <Cite refs={[“turn191828view0”]}/>
1. Tugas Kuliah Menumpuk Membuat Mahasiswa Mengandalkan AI
Salah satu mahasiswa semester tiga jurusan Biologi di sebuah perguruan tinggi swasta mengaku mulai menggunakan AI setelah mendapat tugas menulis empat proposal praktikum dalam satu minggu.
Menurut mahasiswa tersebut, beban tugas terasa berat sehingga ia mencoba memanfaatkan AI untuk membantu menyelesaikannya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa tekanan akademik dapat menjadi salah satu alasan mahasiswa mengandalkan teknologi. Ketika tugas datang bersamaan dan waktu pengerjaan terbatas, AI dianggap mampu mempercepat proses penyusunan tulisan.
Namun, penggunaan AI untuk membantu pekerjaan akademik perlu dibedakan dari menyerahkan seluruh proses pengerjaan kepada mesin. Mahasiswa tetap perlu memahami materi, memeriksa ketepatan informasi, dan mampu mempertanggungjawabkan isi tugas yang dikumpulkan.
2. Mahasiswa Menilai Penilaian Tugas Belum Selalu Mendalam
Faktor lain yang disoroti adalah cara tugas akademik diperiksa dan dinilai.
Seorang mahasiswa semester tiga jurusan Kedokteran Gigi di perguruan tinggi swasta mengungkapkan bahwa tugas makalah terkadang dinilai berdasarkan kelengkapan pengerjaan dan sumber referensi, sementara isi tulisan dinilai belum selalu diperiksa secara mendalam.
Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas tugas sebagai sarana pembelajaran. Jika penilaian lebih berfokus pada apakah tugas telah dikumpulkan, mahasiswa dapat terdorong untuk mengejar penyelesaian pekerjaan daripada memperdalam pemahaman.
Karena itu, evaluasi pembelajaran perlu mempertimbangkan proses berpikir mahasiswa, penguasaan materi, serta kemampuan menjelaskan dan mempertahankan argumen. Presentasi, diskusi, studi kasus, dan penugasan berbasis pemecahan masalah dapat membantu dosen menilai pemahaman secara lebih menyeluruh.
3. Mahasiswa Mengaku Panik Jika Tidak Menggunakan AI
Seorang mahasiswa semester tiga jurusan Psikologi di perguruan tinggi swasta juga mengakui bahwa dirinya sering langsung membuka ChatGPT ketika menghadapi tugas karena merasa panik.
Pengakuan tersebut menggambarkan bagaimana AI dapat menjadi respons otomatis ketika seseorang menghadapi kesulitan akademik.
Ketergantungan semacam ini perlu menjadi perhatian apabila mahasiswa mulai kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan sendiri untuk memulai, memahami, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan teknologi.
AI memang dapat memberikan penjelasan dan membantu menemukan ide. Akan tetapi, mahasiswa tetap perlu melatih kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara mandiri agar tidak hanya bergantung pada jawaban yang dihasilkan sistem.
4. Pakar Soroti Beban Administrasi Dosen
Persoalan ketergantungan AI tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan mahasiswa. Ekosistem pendidikan juga menjadi bagian dari pembahasan.
Doni Koesoema, anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menilai bahwa sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mendukung proses pembelajaran yang bermutu. Menurutnya, siswa dan mahasiswa menghadapi beban akademik, sementara dosen juga dibebani pekerjaan administratif yang dinilai tidak proporsional.
Ia mencontohkan proses pelaporan nilai secara digital yang mengharuskan dosen memasukkan nilai setiap komponen soal secara terperinci. Jika satu kelas berisi puluhan mahasiswa, proses tersebut dapat menyita banyak waktu dan tenaga.
Beban administrasi yang tinggi berpotensi mengurangi waktu dosen untuk mempersiapkan pembelajaran, memberikan umpan balik, dan membimbing mahasiswa.
Karena itu, pembenahan tata kelola pendidikan dinilai penting agar sistem akademik lebih mendukung kegiatan belajar-mengajar, bukan justru menambah beban yang tidak berkaitan langsung dengan peningkatan mutu pembelajaran. <Cite refs={[“turn191828view0”]}/>
5. AI Seharusnya Menjadi Rekan Belajar, Bukan Pengganti Kemampuan Manusia
Rektor Universitas Pradita, Richardus Eko Indrajit, membandingkan hubungan manusia dengan AI seperti Tony Stark dan Jarvis. Dalam film Iron Man, Jarvis membantu Stark mengolah informasi dan menjalankan berbagai pekerjaan, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menentukan tujuan dan mengambil keputusan.
Analogi ini menggambarkan bahwa AI dapat berfungsi sebagai pendamping untuk berdiskusi, mengembangkan gagasan, dan mempercepat pekerjaan.
Dalam dunia perkuliahan, mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk memahami konsep yang sulit, mencari contoh soal, meminta penjelasan alternatif, atau memperoleh masukan terhadap tulisan. Meski demikian, informasi yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi.
AI juga dapat memberikan jawaban yang keliru, tidak lengkap, atau menyertakan sumber yang tidak akurat. Karena itu, mahasiswa perlu menggunakan sumber akademik yang dapat dipertanggungjawabkan dan memahami materi sebelum menyerahkan tugas.
Penggunaan AI yang bertanggung jawab bukan berarti menghindari teknologi, melainkan memanfaatkannya tanpa kehilangan kemampuan berpikir dan belajar secara mandiri.
6. Bagaimana Kampus Mengurangi Ketergantungan AI?
Untuk mengurangi risiko ketergantungan, perguruan tinggi dapat membangun sistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif berpikir dan memahami materi.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
- Menyusun aturan penggunaan AI. Kampus perlu menjelaskan jenis tugas yang memperbolehkan penggunaan AI, batas penggunaannya, dan kewajiban mengungkapkan bantuan AI jika diperlukan.
- Memperbaiki metode penilaian. Penilaian dapat mencakup proses pengerjaan, presentasi, diskusi, dan kemampuan mahasiswa menjelaskan hasil pekerjaannya.
- Mengatur beban tugas secara proporsional. Dosen dapat mengoordinasikan tenggat waktu agar tugas tidak menumpuk secara berlebihan dalam periode yang sama.
- Mengurangi administrasi yang tidak efisien. Penyederhanaan pelaporan dapat memberi dosen lebih banyak waktu untuk mengajar dan membimbing mahasiswa.
- Meningkatkan literasi AI. Mahasiswa perlu memahami manfaat, keterbatasan, risiko kesalahan informasi, serta aspek etika dan integritas akademik.
- Melatih kemampuan belajar mandiri. Mahasiswa tetap perlu mengerjakan latihan tanpa AI pada situasi tertentu untuk mengukur pemahaman dan kemampuan mereka sendiri.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu kampus memanfaatkan teknologi secara lebih bijak sekaligus mempertahankan tujuan utama pendidikan, yaitu membangun pengetahuan, keterampilan, dan karakter pembelajar.
Kesimpulan
Ketergantungan mahasiswa terhadap AI menjadi persoalan yang perlu dilihat dari berbagai sisi. Pengakuan mahasiswa menunjukkan bahwa beban tugas, tenggat waktu yang ketat, dan penilaian yang dianggap kurang mendalam dapat mendorong penggunaan AI secara berlebihan.
Sementara itu, pakar pendidikan menyoroti perlunya perbaikan sistem pembelajaran dan pengurangan beban administrasi dosen.
AI dapat menjadi rekan belajar seperti Jarvis bagi Tony Stark, tetapi teknologi tersebut seharusnya membantu manusia berpikir, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir. Dengan aturan yang jelas, beban akademik yang proporsional, dan penilaian yang mengutamakan pemahaman, kampus dapat mendorong mahasiswa menggunakan AI secara bertanggung jawab tanpa kehilangan kemandirian belajar.










