Jakarta, 4 September 2026 – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai potensi bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin kencang hingga kebakaran hutan. Kondisi tersebut membuat pendidikan kebencanaan bagi anak-anak menjadi hal penting yang perlu dikenalkan sejak usia sekolah.
Pakar Pengasuhan dan Tumbuh Kembang Anak IPB University, Prof. Dwi Hastuti, menilai pendidikan kebencanaan dapat mulai diberikan sejak sekolah dasar (SD). Menurutnya, edukasi mengenai bencana bukan bertujuan untuk menakut-nakuti anak, melainkan membangun pengetahuan dan kesiapsiagaan agar mereka mampu merespons situasi darurat.
Jepang menjadi salah satu negara yang dapat dijadikan contoh dalam penerapan pendidikan kebencanaan di lingkungan sekolah. Di negara tersebut, materi kebencanaan tidak berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam sejumlah pembelajaran.
Jepang Ajarkan Kebencanaan melalui Pelajaran Sekolah
Prof. Dwi Hastuti menjelaskan bahwa sekolah-sekolah di Jepang telah mengenalkan konsep bencana alam dan berbagai jenis risiko kepada anak sejak usia dini.
Materi tersebut dapat terintegrasi dalam pelajaran seperti sains, ilmu sosial, dan pendidikan jasmani. Dengan cara ini, anak tidak hanya mengetahui teori mengenai bencana, tetapi juga memahami bagaimana harus bersikap ketika menghadapi kondisi darurat.
Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk diterapkan di Indonesia mengingat setiap daerah memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda.
Anak-anak di wilayah rawan banjir, misalnya, dapat dikenalkan dengan risiko banjir dan langkah keselamatan. Sementara siswa di wilayah rawan gempa dapat memperoleh pembelajaran mengenai cara berlindung dan melakukan evakuasi.
Dengan pendekatan berbasis lingkungan sekitar, materi kebencanaan menjadi lebih mudah dipahami karena berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pendidikan Kebencanaan Bukan untuk Menakut-nakuti Anak
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara menyampaikan materi kebencanaan kepada anak.
Pendidikan kebencanaan sebaiknya tidak dilakukan dengan memberikan gambaran yang membuat anak merasa takut. Sebaliknya, anak perlu mendapatkan pengetahuan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.
Tujuannya adalah membangun kesadaran, keterampilan, dan kesiapan menghadapi risiko.
Anak dapat dikenalkan dengan berbagai jenis bencana melalui buku pelajaran, buku cerita, gambar maupun video. Materi tersebut dapat menggunakan contoh lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti sungai, gunung, laut, hutan, dan lingkungan permukiman.
Dengan demikian, anak perlahan memahami bahwa bencana merupakan bagian dari risiko lingkungan yang harus dikenali dan dihadapi dengan pengetahuan yang tepat.
Kebakaran Hutan Bisa Dikenalkan Sejak Kelas 1 SD
Pendidikan kebencanaan juga dapat dimulai dari hal sederhana yang dekat dengan kehidupan anak.
Prof. Dwi Hastuti mencontohkan penggunaan api. Anak sejak kelas 1 SD dapat dikenalkan bahwa api memiliki manfaat, tetapi juga dapat menjadi berbahaya apabila digunakan secara tidak tepat.
Pembelajaran tersebut dapat dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari di rumah, misalnya penggunaan kompor, lilin, atau sumber api lainnya.
Seiring bertambahnya usia, materi dapat diperluas. Ketika memasuki kelas 3 SD, misalnya, anak dapat mulai mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai lingkungan, pencemaran sungai dan laut, kerusakan hutan, hingga risiko kebakaran hutan.
Materi tersebut dapat dikaitkan dengan pembelajaran sains agar anak memahami hubungan antara aktivitas manusia, lingkungan, dan risiko bencana.
Jangan Hanya Belajar Teori, Siswa Perlu Simulasi
Pendidikan kebencanaan akan lebih efektif apabila tidak berhenti pada teori.
Sekolah dapat memberikan pengalaman langsung melalui simulasi dan latihan kesiapsiagaan.
Untuk menghadapi kebakaran, misalnya, siswa dapat dilatih mengenai prosedur evakuasi sederhana. Mereka perlu mengetahui jalur keluar, titik berkumpul, serta tindakan yang harus dilakukan ketika mendengar tanda peringatan.
Simulasi juga dapat membantu anak mengurangi kepanikan ketika menghadapi keadaan darurat.
Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Indonesia sendiri menekankan pentingnya membangun sekolah yang memiliki kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana. Pendidikan kebencanaan perlu didukung dengan budaya kesiapsiagaan, fasilitas darurat, serta sistem informasi yang memadai.
Sekolah dan Guru Harus Menjadi Teladan
Pendidikan kebencanaan tidak hanya berbicara tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.
Menurut Prof. Dwi Hastuti, kepedulian terhadap lingkungan juga perlu dibangun melalui kebiasaan sehari-hari di sekolah.
Siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan kelas, membersihkan halaman, merawat lingkungan sekolah, serta tidak membuang sampah sembarangan.
Guru dan sekolah juga harus memberikan contoh nyata.
Jika sekolah ingin membangun budaya peduli lingkungan, perilaku seluruh warga sekolah harus mencerminkan nilai tersebut. Dengan begitu, pendidikan kebencanaan tidak hanya menjadi materi yang dihafalkan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dan karakter.
Orang Tua Punya Peran Penting
Pendidikan kebencanaan juga tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Orang tua memiliki peran penting karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di luar sekolah.
Di rumah, orang tua dapat mengenalkan berbagai potensi bahaya yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya, anak perlu mengetahui bahwa kompor, listrik, lilin, dan berbagai sumber api harus digunakan dengan hati-hati.
Orang tua juga dapat mengajarkan langkah sederhana ketika terjadi keadaan darurat, seperti mencari tempat aman, mengikuti instruksi orang dewasa, dan tidak panik.
Kolaborasi antara keluarga dan sekolah akan membuat pendidikan kebencanaan menjadi lebih konsisten.
Setiap Daerah Perlu Materi yang Berbeda
Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat beragam. Karena itu, pendidikan kebencanaan sebaiknya tidak menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah.
Sekolah perlu mengenali potensi bencana di daerah masing-masing.
Sekolah di daerah pesisir dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap tsunami dan gelombang ekstrem. Wilayah perkotaan dapat mengajarkan kesiapsiagaan menghadapi banjir dan kebakaran. Sementara wilayah pegunungan dapat menyesuaikan materi dengan risiko longsor atau erupsi gunung api.
Pendekatan berbasis risiko lokal membuat pendidikan kebencanaan lebih relevan bagi siswa.
Indonesia Bisa Belajar dari Pengalaman Jepang
Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana dapat dibangun sejak usia dini dan menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Pendidikan kebencanaan tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi juga melalui pembiasaan dan latihan.
Pendekatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk memperkuat pendidikan kebencanaan yang sudah berjalan melalui program sekolah aman bencana.
Dengan pembelajaran yang terintegrasi, simulasi rutin, fasilitas pendukung, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat, sekolah dapat menjadi salah satu pusat pembentukan budaya kesiapsiagaan bencana.
Anak Perlu Disiapkan, Bukan Ditakut-takuti
Pada akhirnya, tujuan pendidikan kebencanaan bukan membuat anak takut terhadap bencana.
Anak justru perlu memahami bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan yang benar ketika menghadapi keadaan darurat.
Pengetahuan tentang lingkungan, kemampuan mengenali risiko, latihan evakuasi, serta kebiasaan menjaga lingkungan merupakan bekal penting.
Jika pendidikan tersebut dimulai sejak SD dan dilakukan secara konsisten, anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa kesiapsiagaan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Pendidikan kebencanaan penting dikenalkan kepada anak sejak sekolah dasar. Indonesia dapat belajar dari Jepang yang mengintegrasikan pengetahuan mengenai bencana ke dalam berbagai mata pelajaran, seperti sains, ilmu sosial, dan pendidikan jasmani.
Materi kebencanaan juga dapat disesuaikan dengan usia anak. Mulai dari mengenalkan bahaya api di kelas 1 SD hingga memahami lingkungan, pencemaran, kerusakan hutan, dan kebakaran pada jenjang berikutnya.
Namun, pendidikan kebencanaan tidak cukup hanya berupa teori. Simulasi, latihan evakuasi, pembiasaan menjaga lingkungan, serta penyediaan fasilitas keselamatan juga perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.
Dengan melibatkan sekolah, guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat, pendidikan kebencanaan dapat membentuk generasi yang tidak mudah panik dan memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri serta membantu orang lain ketika bencana terjadi.












