Sukoharjo — Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui layanan kesehatan. Peran keluarga, kader kesehatan, pemerintah desa, hingga masyarakat juga diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan asupan bergizi dan pemantauan tumbuh kembang secara rutin.
Pendekatan berbasis masyarakat tersebut diterapkan melalui kolaborasi Universitas ‘Aisyiyah Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Desa Jetis, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sejumlah kegiatan dilakukan, mulai dari gerakan one day one egg, pemanfaatan tanaman kelor, penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA), hingga pemberdayaan kader kesehatan dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Pencegahan Dimulai dari Pemenuhan Gizi Anak
Salah satu program yang diperkenalkan adalah one day one egg atau gerakan konsumsi satu telur setiap hari. Telur dipilih karena merupakan sumber protein hewani yang relatif mudah diperoleh dan diolah oleh keluarga.
Penelitian yang dilakukan di Desa Jetis menunjukkan program tersebut digunakan sebagai intervensi untuk meningkatkan pemahaman mengenai pemenuhan protein pada balita. Program ini melibatkan balita usia 6–59 bulan dan menggunakan pendekatan pre-test serta post-test untuk melihat perubahan setelah intervensi.
Meski demikian, konsumsi telur perlu menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi seimbang. Kebutuhan setiap anak dapat berbeda berdasarkan usia dan kondisi kesehatan sehingga pemberian makanan tetap perlu disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan.
Kelor Dimanfaatkan sebagai Pangan Lokal
Selain telur, masyarakat juga didorong memanfaatkan tanaman kelor sebagai salah satu sumber pangan lokal.
Kegiatan pemberdayaan kader Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Desa Jetis mencakup pelatihan pengolahan makanan berbahan kelor. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam memanfaatkan bahan pangan lokal untuk mendukung makanan bergizi bagi balita.
Pemanfaatan kelor bukan berarti menggantikan sumber pangan lainnya. Tanaman tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam menu keluarga yang tetap perlu memenuhi prinsip keberagaman makanan dan kecukupan gizi.
Kader Kesehatan Punya Peran Penting
Pencegahan stunting juga membutuhkan pemantauan pertumbuhan anak secara konsisten. Karena itu, kader kesehatan dan Posyandu menjadi bagian penting dalam pendekatan berbasis masyarakat.
Kader dapat membantu mengedukasi keluarga mengenai gizi, mengingatkan orang tua untuk membawa anak ke Posyandu, serta membantu pemantauan pertumbuhan dan mendukung deteksi dini ketika terdapat masalah tumbuh kembang.
Program di Desa Jetis juga melibatkan kader kesehatan dan KWT agar upaya pencegahan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga Menjadi Lingkungan Pertama Anak
Keluarga memiliki peran yang sangat dekat dengan keseharian anak. Orang tua dapat memastikan anak mendapatkan makanan yang sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan lingkungan, mengikuti jadwal pemantauan pertumbuhan, serta memperhatikan perkembangan anak.
Keterampilan orang tua dalam menyiapkan makanan juga penting. Program pengabdian masyarakat UMS di wilayah Sukoharjo, misalnya, menekankan bahwa edukasi mengenai gizi perlu dilengkapi keterampilan praktis agar dapat diterapkan langsung di rumah.
Dengan demikian, pencegahan stunting tidak berhenti pada mengetahui makanan apa yang bergizi, tetapi juga bagaimana keluarga mampu menyediakan dan mengolah makanan tersebut secara tepat.
KWT Bantu Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi bagian lain dari pendekatan berbasis desa. Pemanfaatan lahan untuk menanam kelor dan TOGA dapat membantu masyarakat mengenal serta memanfaatkan sumber daya pangan dan tanaman yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pendekatan tersebut dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat dalam menyediakan bahan pangan dan menciptakan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Desa Jetis Tunjukkan Pentingnya Kolaborasi
Program kolaboratif UNISA Surakarta dan UMS menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Perguruan tinggi dapat berperan melalui penelitian dan pendampingan, sementara kader, keluarga, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat menjalankan praktiknya di lapangan.
Dalam laporan monitoring program tersebut, jumlah anak stunting di Desa Jetis dilaporkan mengalami penurunan bertahap dalam periode tiga tahun, dari 23 anak menjadi 19 anak, kemudian menjadi 6 anak. Data tersebut merupakan hasil monitoring program dan tetap perlu dibaca sesuai konteks metode serta periode pemantauannya.
Mewujudkan Desa Bebas Stunting
Pencegahan stunting pada akhirnya bukan hanya tentang pemberian makanan tambahan. Upaya tersebut mencakup pola asuh, kecukupan gizi, pemantauan pertumbuhan, layanan kesehatan, kebersihan, ketahanan pangan keluarga, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Pengalaman Desa Jetis memperlihatkan bahwa langkah sederhana seperti memperhatikan asupan protein, menanam pangan lokal, mengaktifkan kader dan memberdayakan masyarakat dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas.
Jika dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak, upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, kemudian berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat desa.









