TANJUNGPINANG – Gelak tawa anak-anak mewarnai kegiatan Main Raya Anak Nusantara dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.
Melalui berbagai permainan tradisional, Kemendikdasmen menghadirkan pengalaman belajar yang aktif, menyenangkan, dan bermakna sebagai bagian dari implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang terus dikembangkan di satuan pendidikan.
Permainan Tradisional Latih Motorik hingga Nalar Kritis Anak
Beragam permainan seperti engklek, congklak, gasing, hingga kegiatan eksplorasi alam dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, sosial-emosional, bahasa, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis anak.
Melalui aktivitas tersebut, peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar melalui pengalaman langsung, berdiskusi, berefleksi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Guru PAUD: Anak Belajar Sambil Bermain
Guru POS PAUD Putri Payung Tanjungpinang, Yuli, menjelaskan bahwa permainan tradisional telah menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Menurutnya, permainan engklek tidak hanya melatih kemampuan motorik anak, tetapi juga mengajarkan berhitung, mengenal konsep ruang, melatih kesabaran saat menunggu giliran, serta meningkatkan kemampuan bersosialisasi.
Selain engklek, permainan seperti melompat sambil berhitung dan congklak juga membantu mengembangkan kemampuan berhitung, bahasa, dan sosial emosional peserta didik secara bersamaan.
Eksplorasi Alam Perkuat Literasi dan Kreativitas
Kegiatan Eksplorasi Alam juga menjadi salah satu wahana favorit dalam Main Raya Anak Nusantara.
Kepala TK Negeri Pembina 2 Kota Tanjungpinang, Indarti, menjelaskan bahwa peserta didik diajak mengenal berbagai biota laut khas Kepulauan Riau, seperti ikan, kepiting, gonggong, kerang, dan siput.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak didorong untuk mengamati, menemukan, kemudian menceritakan kembali pengalaman mereka sehingga kemampuan bernalar kritis, literasi, komunikasi, dan imajinasi berkembang secara alami.
Pembelajaran Inklusif untuk Semua Anak
Semangat pembelajaran yang inklusif juga terlihat dalam permainan congklak yang didampingi guru SLB Negeri 2 Tanjungpinang, Sella Melinda.
Ia menjelaskan bahwa congklak tidak hanya melatih kemampuan berhitung, tetapi juga membantu meningkatkan interaksi sosial, khususnya bagi anak-anak yang memiliki hambatan dalam aspek sosial.
Pada kesempatan tersebut, Sella juga memberikan semangat kepada seluruh anak penyandang disabilitas agar terus belajar dan percaya diri dalam meraih cita-cita.
Pembelajaran Mendalam Lewat Budaya Nusantara
Melalui Main Raya Anak Nusantara, Kemendikdasmen menegaskan bahwa permainan tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Pendekatan ini menjadi bagian dari implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang bertujuan mewujudkan pendidikan yang lebih bermutu, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan setiap anak Indonesia.









