Jakarta — Program mudik gratis yang digelar pemerintah dan sejumlah pihak menjelang Lebaran dinilai tidak hanya membantu masyarakat menghemat biaya perjalanan. Program ini juga berpotensi mengurangi risiko kecelakaan, khususnya dengan mengalihkan sebagian pemudik yang biasanya menggunakan sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh ke transportasi umum.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Hengki Purwoto, mengatakan program mudik gratis dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan daya beli terbatas, seperti buruh dan pelaku UMKM. Kelompok tersebut merupakan salah satu sasaran yang berpotensi terbantu karena perjalanan jauh dapat dilakukan menggunakan bus atau moda transportasi umum lainnya.
Mudik Gratis Bisa Kurangi Penggunaan Motor
Menurut Hengki, persoalan keselamatan menjadi salah satu alasan program mudik gratis penting diperhatikan. Perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda motor memiliki risiko keselamatan yang perlu ditekan, terutama ketika volume kendaraan meningkat selama musim mudik.
Dengan menyediakan transportasi umum, pemudik dapat meninggalkan sepeda motornya untuk perjalanan antarkota. Sejumlah program juga menyediakan layanan pengangkutan sepeda motor menggunakan truk sehingga kendaraan tetap dapat digunakan setelah pemudik tiba di daerah tujuan.
Kementerian Perhubungan juga menyebut pengurangan penggunaan sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh sebagai salah satu tujuan program mudik gratis. Pada 2026, Ditjen Perhubungan Darat menyediakan 401 bus dengan kapasitas 15.834 penumpang untuk perjalanan menuju 34 kota tujuan. Program tersebut juga menyediakan pengangkutan sepeda motor menggunakan truk.
Hanya Sebagian Kecil dari Total Pemudik
Meski memiliki manfaat, kapasitas mudik gratis masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan pergerakan masyarakat saat Lebaran.
Hengki memperkirakan total perjalanan mudik nasional mencapai sekitar 144 juta pergerakan, sedangkan sekitar 70–80 juta pergerakan berada di Pulau Jawa. Sementara itu, kapasitas mudik gratis dari Jabodetabek menuju Jawa dan Sumatera yang menjadi objek kajiannya hanya sekitar 15.000 orang, atau sekitar 0,01 persen dari total pergerakan.
Karena itu, dampak program secara jumlah memang terbatas. Namun, menurut Hengki, manfaatnya tetap dapat dirasakan terutama apabila program menyasar kelompok masyarakat yang sebelumnya berencana menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor.
Efisiensi Dilihat dari Manfaat Sosial
Hengki menjelaskan bahwa efisiensi program mudik gratis tidak cukup dinilai hanya dari jumlah peserta atau biaya penyelenggaraannya. Perhitungan juga perlu memasukkan manfaat sosial yang dihasilkan.
Manfaat tersebut antara lain potensi pengurangan kecelakaan lalu lintas, kemacetan, serta tekanan terhadap jalan, jembatan dan terminal. Jika penurunan kecelakaan dan kerusakan infrastruktur dapat dikonversi secara ekonomi, nilainya dapat dibandingkan dengan biaya penyelenggaraan program.
Hengki menyebut biaya penyelenggaraan sekitar Rp2 miliar sebagai salah satu angka yang dapat digunakan dalam perhitungan. Program berpotensi dinilai efisien apabila manfaat sosial yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
Transportasi Umum Perlu Diperkuat
Selain mudik gratis, Hengki mendorong agar pengelolaan arus mudik menjadi bagian dari strategi transportasi regional dalam jangka panjang.
Untuk jangka pendek, pemerinta









