KUDUS – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kompetensi guru agar mampu menerapkan pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dengan cara yang mudah, sederhana, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang mampu menumbuhkan pola pikir kritis dan inovatif sejak dini. Kemendikdasmen mendorong agar STEM tidak dipandang sebagai pembelajaran yang membutuhkan laboratorium canggih atau peralatan mahal.
Melalui prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful, pembelajaran STEM diharapkan dapat diterapkan di berbagai sekolah dan jenjang pendidikan.
STEM Bisa Dimulai dari Lingkungan Sekitar
Penerapan STEM dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar anak.
Lingkungan sekolah maupun rumah dapat menjadi sumber belajar. Fenomena seperti katak di sawah, belalang yang melompat, semut yang berjalan beriringan, hingga kupu-kupu dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk mengenalkan konsep sains.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium atau perangkat teknologi berbiaya tinggi.
Justru, rasa ingin tahu anak dan lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk mengajak mereka mengamati, bertanya, mencoba, menemukan solusi, serta menghasilkan sesuatu.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen untuk membuat STEM lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Mengenal Prinsip 5M dalam Pembelajaran STEM
Konsep STEM yang dikembangkan Kemendikdasmen mengedepankan lima prinsip utama.
Pertama, Mudah. Pembelajaran STEM dirancang agar dapat diterapkan dengan cara yang sederhana dan tidak rumit.
Kedua, Murah. Guru dapat memanfaatkan berbagai bahan dan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar sehingga penerapan STEM tidak harus membutuhkan biaya besar.
Ketiga, Menggembirakan. Proses belajar dirancang agar anak merasa tertarik dan menikmati kegiatan pembelajaran.
Keempat, Mindful. Pembelajaran mendorong kesadaran dan perhatian peserta didik terhadap proses belajar yang sedang dilakukan.
Kelima, Meaningful. Materi pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata sehingga peserta didik memahami manfaat dari apa yang mereka pelajari.
Kelima prinsip tersebut diharapkan membuat STEM dapat diterapkan secara lebih luas oleh guru di berbagai kondisi sekolah.
Kompetensi Guru Jadi Kunci
Kemendikdasmen menilai penerapan program STEM di sekolah harus dibarengi dengan peningkatan kompetensi guru.
Guru tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai konsep STEM, tetapi juga kemampuan merancang pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi murid.
Karena itu, penguatan kompetensi menjadi bagian penting dalam program STEM. Pembelajaran STEM juga diarahkan agar selaras dengan prinsip Pembelajaran Mendalam.
Dengan kemampuan tersebut, guru diharapkan mampu mengubah persoalan yang ada di sekitar peserta didik menjadi bahan pembelajaran.
3.272 Guru Jadi Sasaran Pengimbasan
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani menyampaikan bahwa penguatan STEM dilakukan melalui berbagai program prioritas.
Salah satu upayanya adalah menargetkan 3.272 guru sebagai sasaran pengimbasan yang dilakukan oleh fasilitator daerah.
Skema pengimbasan ini diharapkan dapat memperluas penerapan pembelajaran STEM. Guru yang telah mendapatkan pembekalan dapat berbagi pengetahuan dan praktik baik kepada pendidik lainnya.
Dengan demikian, penguatan kompetensi tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat menyebar ke lebih banyak sekolah.
Kemendikdasmen Bentuk 155 Fasilitator Nasional
Untuk mendukung pelaksanaan program, Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional.
Para fasilitator tersebut mengikuti pelatihan melalui kemitraan dengan sejumlah institusi, antara lain Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education.
Program peningkatan kompetensi mencakup pelatihan teknis, micro-credential, serta lokakarya lintas jenjang.
Model tersebut dirancang agar guru memiliki bekal yang lebih kuat untuk menerapkan STEM sekaligus membagikan praktik baik kepada pendidik lain.
STEM Tidak Harus Rumit dan Mahal
Salah satu pesan penting dari program ini adalah mengubah cara pandang terhadap pembelajaran STEM.
STEM tidak harus identik dengan robot, komputer canggih, laboratorium lengkap, atau peralatan berteknologi tinggi.
Pembelajaran dapat dimulai dari persoalan nyata yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, lingkungan sekitar dapat menjadi objek pengamatan. Dari sana, guru dapat mengajak murid mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sederhana, mengukur hasil, mencari solusi, kemudian membuat sebuah karya.
Dengan pendekatan tersebut, STEM menjadi proses berpikir dan memecahkan masalah, bukan sekadar mempelajari istilah atau rumus.
Anak Diajak Berpikir Lewat Masalah Nyata
Kemendikdasmen menekankan bahwa pendekatan STEM diarahkan agar anak belajar melalui masalah nyata.
Peserta didik tidak hanya menghafalkan rumus tanpa memahami kegunaannya. Mereka diajak mengetahui mengapa suatu konsep dipelajari dan bagaimana konsep tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan.
Pendekatan ini dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, serta kemampuan menghasilkan gagasan baru.
Karena itu, slogan yang diusung dalam program STEM adalah “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.”
Kearifan Lokal Bisa Menjadi Sumber Belajar
Penerapan STEM juga didorong agar dekat dengan kearifan lokal.
Setiap daerah memiliki lingkungan, budaya, sumber daya, dan persoalan yang berbeda. Hal tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran yang relevan bagi peserta didik.
Menurut Nunuk Suryani, implementasi STEM yang terarah dengan prinsip 5M dan erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas menuju Indonesia Emas 2045.
Dengan demikian, STEM tidak harus menggunakan contoh yang jauh dari kehidupan anak. Justru persoalan yang mereka temui sehari-hari dapat menjadi titik awal pembelajaran.
Pemda Didorong Ikut Memperkuat STEM
Keberhasilan program STEM juga membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam ekosistem pendidikan.
Kemendikdasmen menekankan pentingnya partisipasi berbagai pihak, termasuk kepala daerah, dinas pendidikan, serta mitra pembangunan.
Di Kabupaten Kudus, pemerintah daerah menyatakan akan mengimplementasikan program secara bertahap di berbagai jenjang. Salah satu opsi yang disiapkan adalah melakukan piloting di satu atau dua sekolah sebelum diperluas.
Sementara itu, Kabupaten Jepara menyatakan dukungan melalui komunitas belajar guru. Melalui komunitas tersebut, praktik STEM diharapkan dapat diimbaskan kepada lebih banyak guru.
Komunitas Belajar Jadi Penggerak
Komunitas belajar dapat menjadi salah satu jalur penting dalam memperluas penerapan STEM.
Guru dapat bertukar pengalaman mengenai cara merancang kegiatan STEM, bahan sederhana yang dapat digunakan, maupun metode untuk menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan nyata.
Dengan adanya kolaborasi, guru tidak harus menemukan semua model pembelajaran seorang diri.
Praktik baik dari satu sekolah dapat dibagikan kepada sekolah lain dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Guru Didorong Terus Belajar
Program STEM juga menjadi pengingat bahwa kompetensi guru perlu terus dikembangkan mengikuti perubahan kebutuhan pendidikan.
Guru perlu memiliki ruang untuk belajar, mencoba pendekatan baru, melakukan refleksi, dan berbagi pengalaman dengan sesama pendidik.
Guru yang hadir dalam peluncuran program STEM juga menyampaikan pentingnya terus meningkatkan kemampuan dan saling menginspirasi dalam praktik mengajar.
Semangat tersebut diharapkan menjadi bagian dari budaya belajar berkelanjutan di kalangan pendidik.
Kesimpulan
Kemendikdasmen terus memperkuat kompetensi guru untuk menerapkan pembelajaran STEM yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.
Program ini diarahkan untuk mengubah cara pandang bahwa pembelajaran STEM harus menggunakan fasilitas mahal atau teknologi canggih. Sebaliknya, proses belajar dapat dimulai dari lingkungan sekitar dan persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional dan menargetkan 3.272 guru sebagai sasaran pengimbasan oleh fasilitator daerah. Program peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui pelatihan teknis, micro-credential, dan lokakarya lintas jenjang dengan melibatkan sejumlah mitra pendidikan internasional.
Dukungan pemerintah daerah dan komunitas belajar guru menjadi bagian penting untuk memperluas implementasi STEM di sekolah.
Dengan pendekatan “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”, STEM diharapkan tidak menjadi pembelajaran yang rumit, tetapi menjadi pengalaman belajar yang membantu anak berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.












