JAKARTA – Keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi bagi bangsa. Hal itu dibuktikan oleh Fajri Hidayatullah, penyandang disabilitas tuna netra yang kini dipercaya sebagai Tim Ahli Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen, Kelembagaan, dan Reformasi Birokrasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Perjalanan Fajri menuju pendidikan tinggi penuh dengan tantangan. Berasal dari Sumatera Selatan, ia harus melewati berbagai rintangan sebelum akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah dan mengabdikan diri di bidang pendidikan.
Tujuh Tahun Tidak Bersekolah
Pria kelahiran 1991 ini mengaku sempat mengalami masa-masa sulit untuk menerima kondisi dirinya.
Saat memasuki usia sekolah, Fajri tidak dapat melanjutkan pendidikan dan harus berdiam diri di rumah selama tujuh tahun.
Saat itu, di daerah tempat tinggalnya belum tersedia sistem ujian paket, sementara usianya sudah dianggap terlambat untuk masuk Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Mau masuk SLB sudah terlambat usianya, jadi cukup banyak yang dipertimbangkan sehingga pada saat itu memilih di rumah saja,” ujar Fajri dalam acara Coffee Morning Hari Disabilitas Internasional yang diselenggarakan Kemendikdasmen di Jakarta Selatan.
Berjuang Meraih Kesempatan Belajar
Tekad Fajri untuk kembali mengenyam pendidikan membawanya hijrah ke Jakarta pada 2011.
Namun perjuangannya belum berakhir. Ia sempat mengalami penolakan ketika ingin melanjutkan pendidikan di wilayah Jakarta Timur.
Pada masa itu, Undang-Undang tentang Penyandang Disabilitas belum berlaku sehingga akses pendidikan bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas.
Meski demikian, Fajri tidak menyerah. Ia melakukan advokasi secara mandiri hingga akhirnya diterima untuk melanjutkan pendidikan.
Setelah itu, ia mengikuti ujian kejar paket di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Depok sebagai langkah awal melanjutkan pendidikan formal.
Diragukan Saat Kuliah Ilmu Politik
Keberhasilan mengikuti ujian paket mengantarkan Fajri menjadi mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Namun, keraguan datang dari lingkungan sekitarnya. Saat itu belum pernah ada mahasiswa tuna netra yang mengambil Program Studi Ilmu Politik di kampus tersebut.
Ia mengaku hampir setiap hari mendapat pertanyaan apakah ingin pindah jurusan.
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Fajri memilih membuktikan kemampuannya melalui prestasi akademik.
Pada semester pertama, ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,00. Prestasi tersebut membuat keraguan yang selama ini diarahkan kepadanya perlahan menghilang.
Lulus Lebih Cepat dan Melanjutkan Pendidikan
Fajri berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya hanya dalam waktu tiga tahun dua bulan.
Prestasinya membuat rektor saat itu mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2).
Selain aktif menempuh pendidikan, Fajri juga terus terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan advokasi bagi penyandang disabilitas, khususnya di bidang pendidikan.
Pesan untuk Generasi Muda Penyandang Disabilitas
Kini, sebagai Tim Ahli Staf Khusus Menteri Kemendikdasmen, Fajri terus mendorong terciptanya pendidikan yang lebih inklusif di Indonesia.
Menurutnya, tekad dan semangat pantang menyerah menjadi modal utama untuk menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau masih memiliki tekad saya kira tidak ada yang mustahil itu bisa dilalui sampai detik ini. Kita terus memotivasi adik-adik kita untuk terus melakukan advokasi di dunia pendidikan,” pesan Fajri.
Kisah Fajri Hidayatullah menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat. Dengan dukungan lingkungan yang inklusif dan semangat yang kuat, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan meraih cita-cita.









