“Saya akhirnya yang mengambil alih.”
Kalimat sederhana itu diucapkan Nur Syakira, guru honorer di Sekolah Tapal Batas Darul Furqan, Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Sejak 2023, ia tidak hanya mengajar di kelas. Setiap hari, bahkan sebelum fajar menyingsing, ia sudah menyiapkan sarapan, membangunkan 16 anak penghuni asrama, membantu mereka mandi, berpakaian, hingga memastikan mereka siap berangkat sekolah.
Sepulang mengajar, tugasnya belum selesai. Ia kembali mendampingi anak-anak makan siang, beristirahat, mengaji, murojaah, belajar pada malam hari, mencuci pakaian, merapikan tempat tidur, sekaligus mengurus anak kandungnya yang masih balita.
Anak-anak yang diasuhnya merupakan putra-putri pekerja migran Indonesia yang bekerja di perkebunan sawit di Malaysia. Karena jarak rumah ke sekolah bisa mencapai 3–4 jam berjalan kaki, mereka tinggal di asrama dan hanya bertemu orang tua saat akhir pekan.
Meski memikul tanggung jawab sebagai ibu asuh bagi belasan anak, Nur Syakira mengaku tidak menerima honor tambahan. Penghasilannya hanya berasal dari tugasnya sebagai guru honorer.
Baginya, mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran di depan kelas. Asrama telah menjadi ruang belajar yang mengajarkan kasih sayang, kemandirian, dan kepedulian setiap hari.
Di tapal batas Indonesia-Malaysia, pengabdian seperti ini mungkin tak selalu menjadi sorotan. Namun, di sanalah ada seorang guru yang membuktikan bahwa menjadi pendidik berarti hadir sepenuh hati, bahkan ketika perannya melampaui ruang kelas.









