“Apa yang dilakukan oleh keluarga besar MTsN 10 Pesisir Selatan hari ini adalah bukti bahwa madrasah bukan hanya tempat mendidik peserta didik, tetapi juga tempat tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kepedulian. Semoga bantuan ini dapat meringankan langkah Hamdani dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang telah berpartisipasi,” ujar Azwar Alif.
Kisah mengharukan datang dari MTsN 10 Pesisir Selatan.
Hamdani, seorang guru honorer, tetap menjalankan tugasnya mengajar meski harus menghadapi keterbatasan. Setelah sepeda motor miliknya ditarik oleh pihak dealer, ia tak menyerah. Setiap pagi usai salat Subuh, ia berjalan kaki sekitar 6 kilometer dari Sungai Gemuruh menuju sekolah di Tigo Sungai, Inderapura, agar para siswanya tetap bisa belajar.
Ketulusan itu ternyata tidak luput dari perhatian rekan-rekan sejawatnya. Dengan semangat gotong royong, para guru di MTsN 10 Pesisir Selatan mengumpulkan sumbangan secara sukarela untuk menghadiahkan sebuah sepeda motor kepada Hamdani.
Bagi sebagian orang, sepeda motor mungkin hanyalah alat transportasi. Namun bagi Hamdani, hadiah ini adalah bukti bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar dijalani sendirian. Di balik profesi guru, ada rasa persaudaraan, kepedulian, dan solidaritas yang begitu kuat.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata.
Semoga semakin banyak lingkungan pendidikan yang saling menguatkan seperti ini. Karena ketika guru saling menjaga, mereka akan semakin kuat dalam menjaga masa depan generasi bangsa.









