Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di sekitar Kepulauan Masalembu, Laut Jawa, menjadi perhatian sejumlah pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dua akademisi ITS memberikan analisis awal dari sisi kondisi perairan dan aspek teknis kapal.
KM Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis Ro-Ro yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin. Kapal tersebut mengalami kecelakaan pada Minggu, 13 September 2026, setelah sebelumnya menghadapi kondisi cuaca di laut dan kehilangan kontak. Berdasarkan data awal yang diberitakan, kapal membawa 243 orang dan 89 kendaraan.
Gelombang Mencapai Sekitar 2 Meter
Pakar lingkungan laut ITS, Dr Eng Kriyo Sambodho, menganalisis kondisi hidrometeorologi di sekitar lokasi kejadian. Menurutnya, wilayah Kepulauan Masalembu memiliki dinamika laut yang cukup kompleks karena dipengaruhi angin muson serta proses perubahan karakter gelombang.
Data yang dianalisis menunjukkan angin dari tenggara berada pada kisaran 18–20 knot, dengan hembusan mencapai 27–30 knot. Pada periode yang sama, tinggi gelombang signifikan meningkat dari sekitar 1,7 meter hingga mencapai 1,9–2,0 meter. Kondisi tersebut dikategorikan sebagai adverse marine conditions, meskipun tidak termasuk cuaca ekstrem menurut klasifikasi BMKG.
Menurut Kriyo, kombinasi tinggi gelombang, arah angin, serta arah gelombang terhadap posisi kapal dapat memengaruhi respons dan stabilitas kapal ketika beroperasi di laut terbuka.
Arus Laut Juga Perlu Diperhitungkan
Selain angin dan gelombang, kondisi arus di sekitar lokasi juga menjadi bagian dari analisis. Arus permukaan tercatat berada di kisaran 1,0–1,2 knot dan bergerak ke arah barat.
Periode gelombang di lokasi kejadian berada pada kisaran tujuh hingga delapan detik dengan arah gelombang dari tenggara. Menurut Kriyo, kombinasi berbagai faktor lingkungan tersebut perlu diperhitungkan dalam evaluasi keselamatan pelayaran.
Ramp Door Menjadi Salah Satu Bagian yang Perlu Diperiksa
Dari sisi teknis, Kriyo menyebut ramp door sebagai salah satu bagian kapal yang perlu diperiksa apabila terdapat dugaan air masuk ke dalam kapal. Pintu berukuran besar tersebut digunakan sebagai akses kendaraan dan muatan.
Sementara itu, pakar hidrodinamika ITS Prof Ir Ketut Aria Pria Utama juga menyoroti kemungkinan masuknya air dalam jumlah besar ke kapal. Menurut analisis awalnya, air dapat masuk apabila ramp door tidak tertutup rapat atau tidak kedap air, terutama ketika kapal menghadapi gelombang.
Pergeseran Muatan Bisa Memengaruhi Stabilitas
Prof Ketut juga menjelaskan kemungkinan pergeseran muatan atau cargo shift. Kendaraan yang tidak terikat dengan baik dapat bergeser ketika kapal mengalami gerakan besar akibat gelombang.
Pergeseran tersebut dapat mengubah distribusi massa dan memengaruhi titik keseimbangan kapal. Jika pada saat bersamaan terdapat air yang masuk ke dek, kondisi tersebut dapat semakin memengaruhi stabilitas kapal.
Ia juga menyoroti aspek seakeeping, yakni kemampuan kapal mempertahankan performa dan stabilitas ketika menghadapi kondisi laut tertentu. Menurutnya, kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan tempat kapal beroperasi perlu menjadi salah satu bagian dalam evaluasi teknis.
Usia Kapal Bukan Satu-satunya Faktor
KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal yang berasal dari Jepang dan telah berusia sekitar 30 tahun. Namun, Prof Ketut menekankan bahwa usia kapal tidak otomatis menjadi penyebab kecelakaan selama perawatan dilakukan dengan baik.
Hal yang perlu diperiksa adalah kondisi teknis kapal, kesesuaian desain dengan rute pelayaran, sistem keselamatan, kondisi muatan, serta faktor lingkungan ketika kecelakaan terjadi.
Penyebab Pasti Masih Menunggu Investigasi
Kedua pakar ITS menegaskan bahwa analisis yang disampaikan masih berupa kemungkinan berdasarkan kondisi lingkungan dan aspek teknis. Penyebab pasti kecelakaan tidak dapat ditentukan hanya dari satu faktor.
Investigasi menyeluruh tetap diperlukan untuk memeriksa kondisi kapal, sistem keselamatan, muatan, riwayat perawatan, serta kondisi laut ketika insiden berlangsung. Basarnas juga menyiapkan operasi salvage dengan dukungan tenaga ahli dari Indonesia dan luar negeri untuk membantu asesmen serta penanganan kapal.
Kriyo mengingatkan agar kecelakaan KM Virgo tidak dikaitkan dengan mitos “Segitiga Bermuda Indonesia” di Masalembu. Menurutnya, penyebab kecelakaan perlu ditelusuri berdasarkan data kondisi lingkungan, aspek teknis kapal, dan hasil investigasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.








