Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 memberikan gambaran mengenai kondisi pendidikan Indonesia. Di satu sisi, skor membaca dan sains siswa Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan 2022. Namun, capaian tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik dan masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.
Dalam PISA 2025, Indonesia memperoleh skor 365 untuk membaca, 389 untuk sains, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan PISA 2022, skor membaca meningkat dari 359 menjadi 365, sementara sains naik dari 383 menjadi 389. Sebaliknya, matematika turun dari 366 menjadi 364.
Kenaikan Skor Belum Berarti Lompatan Mutu
OECD mencatat perubahan capaian Indonesia pada ketiga bidang tersebut antara 2022 dan 2025 tidak signifikan secara statistik. Artinya, kenaikan enam poin pada membaca dan sains perlu dipandang sebagai indikasi perubahan, tetapi belum dapat disebut sebagai lompatan besar dalam kualitas pembelajaran.
Jika dibandingkan dengan rata-rata OECD, kesenjangan masih cukup besar. Rata-rata OECD berada di sekitar 461 untuk membaca, 482 untuk sains, dan 463 untuk matematika, sedangkan Indonesia masing-masing mencatat 365, 389, dan 364.
Matematika Masih Menjadi Tantangan
Matematika menjadi salah satu pekerjaan rumah utama. Skor Indonesia turun dua poin dari PISA 2022, meskipun perubahan tersebut juga tidak signifikan secara statistik.
Persoalan bukan hanya mengenai skor rata-rata. PISA mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata, sehingga kemampuan bernalar dan menerapkan konsep menjadi bagian penting dalam asesmen.
Data OECD menunjukkan sekitar 63,2 persen siswa Indonesia tergolong low performers dalam sains, sementara hanya sekitar 17 persen siswa yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika. Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak siswa yang perlu diperkuat pada kompetensi dasar.
Akses Pendidikan Indonesia Semakin Luas
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia mencatat perkembangan dalam hal akses pendidikan.
Kemendikdasmen menyebut Coverage Index Indonesia meningkat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi sekitar 0,90 pada PISA 2025. Indeks ini menggambarkan proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal.
Perluasan akses tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam membaca hasil PISA. Semakin banyak anak yang berada dalam sistem pendidikan, semakin luas pula kelompok siswa yang tercakup dalam pengukuran.
Tantangan Berikutnya: Meningkatkan Kemampuan Tingkat Tinggi
Pekerjaan rumah pendidikan Indonesia bukan hanya memastikan anak bersekolah, tetapi juga meningkatkan kualitas pembelajaran setelah akses semakin luas.
PAUDPEDIA Kemendikdasmen mencatat bahwa jumlah siswa Indonesia yang masuk kelompok top performers pada setidaknya satu bidang PISA masih sangat kecil. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kemampuan bernalar dan pembelajaran tingkat tinggi.
OECD juga menekankan pentingnya memperkuat kemampuan guru, memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, serta menjaga agar teknologi dan kecerdasan buatan digunakan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan upaya berpikir siswa.
Pemerintah Siapkan Sejumlah Strategi
Kemendikdasmen menyatakan akan memperkuat kualitas pembelajaran melalui sejumlah langkah, antara lain peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi dan numerasi, pembelajaran mendalam atau deep learning, serta pemanfaatan teknologi dan AI dalam pendidikan.
Dengan demikian, hasil PISA 2025 menunjukkan dua sisi pendidikan Indonesia. Akses pendidikan semakin luas dan skor membaca serta sains mengalami kenaikan, tetapi kemampuan akademik dasar dan tingkat tinggi siswa masih perlu diperkuat. Hasil PISA menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat area pembelajaran yang perlu mendapat perhatian dalam perbaikan pendidikan ke depan.



