Jakarta – Memasuki dunia perkuliahan tidak selalu harus diawali dengan kegiatan orientasi yang hanya berlangsung di dalam kampus. Universitas Ciputra (UC) Jakarta justru mengajak mahasiswa barunya langsung merasakan bagaimana menjalankan bisnis melalui kegiatan Selling Day O-Week 2026.
Kegiatan tersebut digelar selama dua hari, 5–6 September 2026, di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Ratusan mahasiswa baru ditantang untuk merancang ide bisnis, membuat produk, memasarkannya, hingga berhadapan langsung dengan konsumen.
Program ini menjadi bagian dari pendekatan Real Business Experience yang diterapkan UC Jakarta. Melalui praktik langsung, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana menjual produk, tetapi juga memahami proses mengambil keputusan dalam sebuah bisnis.
Bukan Sekadar Bazar Mahasiswa
Selling Day UC Jakarta dirancang berbeda dari bazar mahasiswa pada umumnya.
Mahasiswa tidak sekadar membawa produk untuk dijual. Sebelum berjualan, mereka harus melalui berbagai tahapan, mulai dari menemukan ide, melakukan riset sederhana, menentukan target pasar, mengembangkan produk, menyusun strategi pemasaran, hingga menguji respons konsumen.
Dengan turun langsung ke ruang publik, mahasiswa bisa melihat apakah ide yang mereka buat benar-benar diterima masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat mahasiswa berhadapan dengan situasi bisnis yang nyata. Produk yang menarik menurut pembuatnya belum tentu mendapatkan respons yang sama dari konsumen.
Karena itu, masukan dari calon pembeli menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
20 Tenant Ikut Berjualan
Dalam kegiatan Selling Day, terdapat 20 kelompok atau tenant mahasiswa baru yang menawarkan berbagai jenis produk.
Kategori bisnis yang dikembangkan cukup beragam, antara lain:
- Food and Beverage (F&B)
- Produk kreatif
- Lifestyle
- Hobby
- Wellness Active
- Creator
- Learning
Keberagaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat dan kreativitas masing-masing.
Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga memikirkan bagaimana produk tersebut memiliki nilai bagi konsumen.
Mahasiswa Diberi Modal Rp1 Juta
Salah satu bagian menarik dari pembelajaran Selling Day adalah mahasiswa mendapatkan modal awal Rp1 juta untuk setiap kelompok.
Modal tersebut bukan diberikan begitu saja sebagai uang operasional. Mahasiswa harus mengelolanya dengan bertanggung jawab dan mengembalikan modal tersebut.
Setelah modal berhasil dikembalikan, barulah kelompok dapat mengejar keuntungan dari bisnis yang dijalankan.
Konsep ini membuat mahasiswa belajar bahwa omzet besar belum tentu berarti bisnis menghasilkan keuntungan. Mereka harus memperhitungkan modal, biaya produksi, stok, harga jual, hingga laba yang diperoleh.
Mahasiswa Didorong Mengejar BEP
Dalam prosesnya, hampir seluruh kelompok disebut telah mencapai break even point (BEP) saat Selling Day berlangsung.
BEP merupakan kondisi ketika pendapatan yang diperoleh telah mampu menutup biaya atau modal yang dikeluarkan.
Setelah mencapai titik tersebut, tantangan mahasiswa berubah. Mereka tidak lagi sekadar berusaha mengembalikan modal, tetapi mulai belajar bagaimana menghasilkan profit.
Penilaian juga tidak hanya didasarkan pada jumlah omzet. Inovasi produk dan kemampuan menghasilkan keuntungan menjadi bagian dari evaluasi kegiatan.
Hal tersebut membuat mahasiswa belajar bahwa ukuran keberhasilan bisnis tidak bisa hanya dilihat dari banyaknya transaksi.
Wajib Melakukan Riset Pasar
Sebelum membawa produk ke ruang publik, setiap kelompok mahasiswa harus terlebih dahulu menyusun konsep bisnis dan melakukan riset pasar.
Mahasiswa dituntut mencari tahu kebutuhan calon konsumen. Hasil riset tersebut kemudian digunakan untuk menentukan produk, harga, strategi pemasaran, hingga cara menawarkan barang.
Proses tersebut juga mengajarkan bahwa membangun bisnis harus dimulai dari pemahaman terhadap masalah dan kebutuhan pasar.
Setelah konsep dibuat, mahasiswa melakukan pitching untuk mendapatkan masukan. Jika diperlukan, konsep bisnis dapat diperbaiki sebelum benar-benar dijual kepada masyarakat.
Belajar dari Respons Konsumen
Salah satu pelajaran penting yang diperoleh mahasiswa adalah memahami bahwa pasar menjadi penentu apakah sebuah produk dapat berkembang.
Saat berjualan, mahasiswa bisa langsung mengetahui produk mana yang menarik perhatian, harga yang dianggap sesuai, serta bagaimana konsumen memberikan respons terhadap produk mereka.
Pengalaman tersebut juga melatih kemampuan komunikasi karena mahasiswa harus menjelaskan keunggulan produk kepada calon pembeli.
Mereka juga belajar menghadapi kondisi ketika produk tidak laku, stok berlebih, atau strategi pemasaran yang tidak berjalan sesuai rencana.
Menurut pihak UC Jakarta, pengalaman semacam itu sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran teori di kelas.
Ada Produk dari Sampah Plastik
Salah satu contoh kreativitas mahasiswa terlihat dari produk yang dibuat Alicia Issabell, mahasiswa baru Program Studi Accounting, bersama timnya.
Kelompok tersebut mengolah tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci bertema laut.
Produk tersebut tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan dan pengurangan sampah plastik.
Alicia mengatakan produk mereka mendapatkan respons positif dari pengunjung. Bahkan, seluruh gantungan kunci yang dibawa timnya disebut habis terjual pada hari pertama sekitar pukul 18.00 WIB.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa sebuah produk dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa pesan sosial.
Ada Produk untuk Pecinta Hewan
Kelompok lain juga mengembangkan produk yang menyasar komunitas tertentu.
Salah satunya adalah Tail & Tales, yang menawarkan blind box key chain bertema hewan dan ditujukan bagi pecinta hewan serta pemilik hewan peliharaan.
Konsep seperti ini menunjukkan bagaimana mahasiswa diarahkan untuk melihat komunitas sebagai calon pasar sekaligus sumber inspirasi dalam mengembangkan produk.
Mahasiswa tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa kami jual?”, tetapi juga belajar memahami, “Masalah atau kebutuhan apa yang bisa kami bantu selesaikan?”
Entrepreneurship Dimulai Sejak Hari Pertama
Bagi UC Jakarta, kegiatan Selling Day merupakan bagian dari upaya membangun entrepreneurial mindset sejak awal perkuliahan.
Mahasiswa tidak harus menunggu semester akhir atau setelah lulus untuk mengenal dunia bisnis.
Sejak menjadi mahasiswa baru, mereka sudah diperkenalkan dengan proses menemukan peluang, menciptakan nilai, bekerja dalam tim, mengembangkan produk, berkomunikasi dengan konsumen, serta mengevaluasi hasil penjualan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Real Business Experience yang menjadi bagian dari pembelajaran di Universitas Ciputra.
Tidak Hanya Mencetak Pengusaha
Pembelajaran entrepreneurship di UC Jakarta juga tidak semata-mata diarahkan agar semua mahasiswa menjadi pengusaha.
Pengalaman menjalankan bisnis dapat melatih berbagai kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja, seperti kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, membaca data, serta beradaptasi dengan perubahan.
Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman lebih baik mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri ketika mereka lulus nanti.
UC Jakarta Dorong Mahasiswa Dekat dengan Dunia Industri
UC Jakarta sendiri mulai beroperasi di Jakarta pada September 2026 dengan membawa pengalaman Universitas Ciputra dalam pendidikan berbasis entrepreneurship.
Kehadiran kampus di Jakarta juga dimaksudkan untuk memperluas jejaring dengan dunia industri dan profesional. Lingkungan Jakarta dinilai memberikan peluang bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan ekosistem bisnis dan industri kreatif.
Melalui kegiatan seperti Selling Day, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori bisnis, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan mereka secara langsung di tengah masyarakat.
Kesimpulan
Selling Day O-Week 2026 UC Jakarta menjadi cara berbeda dalam memperkenalkan dunia perkuliahan kepada mahasiswa baru.
Sebanyak 20 tenant mahasiswa turun langsung ke ruang publik di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, untuk mempraktikkan proses bisnis mulai dari mencari ide, melakukan riset pasar, membuat produk, menentukan strategi pemasaran hingga menjualnya kepada konsumen.
Dengan modal awal Rp1 juta per kelompok, mahasiswa juga belajar mengelola keuangan, mengembalikan modal, mencapai BEP, dan kemudian mengejar keuntungan.
Lebih dari sekadar kegiatan jualan, Selling Day menjadi laboratorium bisnis bagi mahasiswa baru. Mereka belajar bahwa menjalankan usaha membutuhkan kreativitas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca pasar, kerja sama tim, dan ketekunan menghadapi respons konsumen.
Melalui pengalaman tersebut, UC Jakarta berupaya menanamkan jiwa entrepreneurship sejak hari pertama mahasiswa memasuki dunia perguruan tinggi.










