Jakarta – Para ilmuwan berhasil mempertahankan organoid otak manusia yang dikembangkan di laboratorium selama hampir enam tahun. Pencapaian tersebut menjadi terobosan karena organoid otak umumnya hanya dapat bertahan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Organoid otak merupakan kumpulan sel saraf tiga dimensi yang direkayasa di laboratorium untuk meniru sejumlah karakteristik jaringan otak manusia. Meski ukurannya sangat kecil, model ini dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan dan fungsi jaringan otak.
Bertahan Lebih dari Lima Tahun
Organoid tersebut dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Harvard University dan Broad Institute di Amerika Serikat.
Para peneliti berhasil mempertahankan jaringan tersebut secara konsisten selama lebih dari lima tahun, bahkan laporan terbaru menyebut beberapa organoid di laboratorium terkait telah mencapai usia sekitar tujuh tahun.
Pencapaian ini melampaui rekor sebelumnya, ketika organoid otak tercatat mampu bertahan sekitar 694 hari.
Bisa Memiliki “Ingatan”?
Salah satu hal yang menarik perhatian ilmuwan adalah kemampuan organoid tersebut menunjukkan karakteristik aktivitas saraf yang berkaitan dengan perkembangan jaringan otak.
Namun, istilah “punya ingatan” atau “memiliki kesadaran” perlu dipahami secara hati-hati. Organoid ini bukan otak manusia utuh dan tidak memiliki tubuh, pengalaman hidup, atau lingkungan sensorik seperti manusia.
Kemampuan jaringan untuk mempertahankan aktivitas dan mengalami perubahan biologis selama bertahun-tahun justru menjadi hal penting bagi penelitian tentang bagaimana jaringan saraf manusia berkembang dan matang.
Mengapa Penemuan Ini Penting?
Selama ini penelitian terhadap perkembangan otak manusia menghadapi keterbatasan karena jaringan otak manusia tidak mudah dipelajari secara langsung.
Organoid memberikan model yang memungkinkan peneliti mengamati perkembangan sel saraf dalam kondisi laboratorium.
Dengan masa hidup yang jauh lebih panjang, para ilmuwan memiliki kesempatan untuk mempelajari proses pematangan jaringan otak dalam jangka panjang, termasuk bagaimana neuron berkembang dan membentuk jaringan yang semakin kompleks.
Profesor Harvard sekaligus penulis penelitian, Paola Arlotta, mengatakan para ilmuwan masih belum mengetahui sejauh mana perkembangan dan pematangan jaringan otak manusia dapat berlangsung di luar konteks otak normal di dalam kepala.
Bukan Berarti Ilmuwan Berhasil Membuat Otak Manusia Utuh
Penemuan ini juga tidak berarti ilmuwan telah menciptakan otak manusia lengkap yang dapat hidup sendiri.
Organoid jauh lebih sederhana dibandingkan otak manusia. Ukurannya kecil, struktur dan koneksinya terbatas, serta tidak memiliki seluruh sistem pendukung yang terdapat pada otak manusia.
Karena itu, penelitian ini lebih tepat dipandang sebagai kemajuan dalam pemodelan jaringan otak manusia daripada penciptaan “otak manusia mini” yang memiliki kemampuan seperti manusia.
Potensi untuk Penelitian Masa Depan
Organoid yang dapat bertahan bertahun-tahun berpotensi menjadi alat penting untuk penelitian neurologi dan ilmu saraf.
Model tersebut dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana jaringan otak berkembang dan berubah dalam jangka panjang. Pada tahap berikutnya, teknologi serupa juga berpotensi membantu penelitian mengenai berbagai gangguan neurologis dan pengembangan terapi.
Yang membuat penemuan ini istimewa bukan karena ilmuwan berhasil menciptakan otak manusia yang hidup tanpa tubuh, melainkan karena jaringan otak hasil rekayasa dapat dipertahankan dan dipelajari dalam waktu yang jauh lebih lama dari sebelumnya.



















