Yogyakarta – Ramzy Izza Wardhana membuktikan bahwa pengalaman kuliah di dua negara dapat menjadi perjalanan yang memperkaya kemampuan akademik dan profesional. Wisudawan S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM ini berhasil meraih IPK 3,99 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada 21 Agustus 2026.
Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika UGM yang mengikuti international exposure di program Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.
Lima Tahun Kuliah, Tiga Tahun di Inggris
Berbeda dari mahasiswa jalur reguler yang umumnya menyelesaikan studi dalam empat tahun, Ramzy menempuh pendidikan selama lima tahun. Tambahan satu tahun tersebut digunakan untuk mengikuti program extension yang memberinya kesempatan mendapatkan pengalaman akademik dan profesional di Inggris.
Selama periode tersebut, Ramzy menghabiskan sekitar tiga tahun di Inggris, terdiri dari dua tahun untuk kuliah dan satu tahun mengikuti industrial placement. Pengalaman kerja tersebut dapat dijalankan bersamaan dengan program MBKM dan dikonversikan menjadi SKS.
Aktif Organisasi dan Membangun Pengalaman
Ramzy tidak hanya berfokus pada nilai akademik. Selama kuliah di UGM, ia aktif dalam sejumlah organisasi dan kegiatan, seperti Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM.
Menurut Ramzy, pengalaman berorganisasi membantunya bertemu dengan praktisi dari berbagai perusahaan sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia profesional.
Ia juga membagi fokus berdasarkan tahapan kuliah. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun soft skill, mengikuti organisasi, kegiatan volunteering, dan memperluas jaringan. Memasuki tahun ketiga dan keempat, fokusnya beralih pada penguatan kemampuan teknis dan persiapan karier.
Konsisten Belajar 2–3 Jam Setiap Hari
Saat berada di Inggris, Ramzy menghadapi sistem pembelajaran yang menuntut kemandirian lebih tinggi. Karena itu, ia harus mampu mengatur sendiri waktu belajar dan memahami materi.
Ia mengaku menyediakan sekitar dua hingga tiga jam setiap hari untuk belajar. Menurutnya, konsistensi menjadi salah satu kunci dalam menjaga performa akademik.
Cara belajarnya pun berubah. Jika saat SMA ia masih banyak mengandalkan hafalan, ketika kuliah ia lebih banyak berlatih soal dan memahami konsep. Sistem self-study di Inggris juga membuatnya semakin terbiasa belajar secara mandiri.
Harus Mengorbankan Waktu Sosial
Di balik IPK hampir sempurna, Ramzy mengakui ada sejumlah kompromi yang harus dilakukan. Pada masa tertentu, ia harus mengurangi aktivitas sosial untuk fokus menghadapi ujian maupun persiapan wawancara kerja.
Meski demikian, pengalaman selama lima tahun kuliah menjadi perjalanan yang sangat berarti baginya. Merantau, belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional membuat perjalanan kuliahnya terasa “life changing”.
Ingin Membawa Pengalaman untuk Indonesia
Ramzy tidak ingin pengalaman yang diperolehnya berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ia berharap pengalaman belajar di luar negeri dapat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai persoalan di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia dapat belajar dari negara-negara yang telah lebih dahulu menangani berbagai persoalan seperti keberlanjutan lingkungan, korupsi, dan tata kelola lingkungan. Pada akhirnya, kontribusi tersebut membutuhkan keterlibatan banyak orang.
Kisah Ramzy menunjukkan bahwa prestasi akademik tidak hanya lahir dari kemampuan belajar, tetapi juga dari konsistensi, kemampuan mengatur waktu, pengalaman organisasi, kemandirian, dan keberanian mengambil kesempatan belajar di lingkungan yang berbeda.









