JAKARTA – Sosiolog sekaligus Ketua Social Research Center (SOREC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Andreas Budi Widyanta, menilai kasus ledakan bom yang terjadi di MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan Indonesia.
Menurut Andreas, yang akrab disapa Abe, kedua kasus tersebut memiliki kesamaan, yakni diduga berawal dari kondisi psikologis anak yang tertekan akibat perundungan dan kemudian memandang tindakan ekstrem sebagai jalan keluar.
Fenomena Gunung Es di Dunia Pendidikan
Abe menyebut kasus tersebut merupakan gambaran dari fenomena gunung es, yaitu kondisi ketika persoalan yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar.
Ia menjelaskan bahwa karakter anak dibentuk oleh lingkungan keluarga, sekolah, budaya, dan masyarakat. Ketika seorang anak tumbuh dengan pengalaman kurang perhatian, minim kasih sayang, atau mengalami luka batin, kondisi tersebut dapat semakin memburuk jika disertai perundungan di sekolah.
Menurutnya, kemarahan yang terus dipendam dapat berkembang menjadi perilaku yang membahayakan apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Pengaruh Media Sosial dan Kemampuan Meniru
Andreas juga menyoroti kemampuan mimesis, yaitu kecenderungan anak untuk meniru apa yang mereka lihat.
Ia menilai anak-anak dapat dengan mudah mengakses berbagai konten di media sosial, termasuk konten yang mengandung unsur kekerasan. Jika tidak diimbangi dengan pendampingan dari keluarga maupun sekolah, konten tersebut berpotensi ditiru dalam bentuk tindakan nyata.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun karakter anak.
Perlu Menggali Akar Permasalahan
Abe menegaskan bahwa penyelesaian kasus kekerasan di sekolah tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan pengamanan atau penanganan di permukaan.
Ia mendorong adanya evaluasi yang lebih mendalam terhadap sistem pendidikan, termasuk memperkuat budaya dialog antara orang tua, guru, dan peserta didik.
Dengan adanya ruang komunikasi yang terbuka, anak diharapkan lebih mudah menyampaikan perasaan, tekanan, maupun persoalan yang mereka alami sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Budaya Dialog Dinilai Masih Minim
Menurut Andreas, budaya dialog dengan anak di Indonesia masih belum berkembang secara optimal.
Ia menilai banyak anak belum terbiasa mengungkapkan perasaan dan emosinya. Di sisi lain, pendidikan sering kali lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan karakter, kemampuan mengelola emosi, dan nilai-nilai kehidupan.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah agar anak memperoleh pendampingan yang berkesinambungan ketika menghadapi masalah.
Dorong Pendekatan Cura Personalis
Dalam pandangannya, sistem pendidikan Indonesia perlu mengembangkan pendekatan cura personalis, yaitu pendekatan pendidikan yang menekankan perhatian dan kepedulian terhadap kebutuhan setiap individu.
Abe menilai setiap anak memiliki karakter, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan pendekatan yang seragam.
Karena itu, pembenahan sistem pendidikan memerlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, inklusif, serta mendukung perkembangan emosional dan akademik peserta didik.









