Kualitas generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas anak muda sejak saat ini dinilai perlu dilakukan agar mereka tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat menutup kegiatan Youth Civilization Summit 2026, yang merupakan rangkaian Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I PP Pemuda PERSIS di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (12 September 2026).
Generasi Muda Harus Mampu Menghadapi Perubahan
Atip menekankan bahwa generasi muda perlu dipersiapkan bukan hanya untuk melanjutkan kepemimpinan, tetapi juga menjadi pihak yang mampu merespons berbagai persoalan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Menurutnya, semangat untuk bergerak perlu berjalan bersama kemampuan berpikir, menganalisis persoalan, serta menghasilkan gagasan. Dengan kemampuan tersebut, anak muda diharapkan dapat mengambil peran secara nyata dalam kehidupan sosial.
Ia juga menyoroti dua kekuatan yang perlu dikembangkan generasi muda, yakni aktivisme dan intelektualisme. Aktivisme mendorong anak muda hadir dan berkontribusi di tengah masyarakat, sedangkan intelektualisme membantu mereka memahami persoalan dan menentukan arah perubahan.
Kepercayaan Diri Harus Dibangun dengan Kemampuan
Selain kemampuan intelektual dan keberanian mengambil peran, Atip mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan diri yang memiliki dasar kuat.
Optimisme, menurut pesan yang disampaikannya, perlu dibarengi dengan kemampuan dan kapasitas yang nyata. Karena itu, generasi muda didorong untuk terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman sebagai bekal menghadapi masa depan.
Kemampuan tersebut semakin penting di tengah perubahan teknologi, dinamika sosial, serta tantangan global yang semakin kompleks. Generasi muda membutuhkan pengetahuan sekaligus karakter agar mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi secara bermakna.
Pendidikan Tidak Hanya Mengejar Prestasi Akademik
Dalam konteks pendidikan, pengembangan kapasitas generasi muda tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan juga memiliki peran dalam membangun kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab di masyarakat.
Karena itu, lingkungan pendidikan diharapkan dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan gagasan dan keterampilan sekaligus belajar bekerja bersama orang lain.
Atip juga mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton perubahan. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan gagasan, bekerja secara efektif, serta mengambil tanggung jawab terhadap masa depan yang ingin diwujudkan.
Kualitas Generasi Muda Jadi Investasi Jangka Panjang
Penguatan pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri sejak sekarang merupakan bagian dari investasi jangka panjang bagi Indonesia.
Semakin kuat kapasitas yang dibangun pada generasi muda, semakin besar bekal yang mereka miliki untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Karena itu, pembangunan kualitas sumber daya manusia perlu berjalan beriringan dengan upaya menciptakan generasi yang mampu berpikir, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat.









