Pemulihan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan sekolah. Kondisi psikologis peserta didik juga menjadi perhatian karena sebagian anak mengalami ketakutan dan kecemasan setelah menghadapi bencana dan gempa susulan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik menyatakan membutuhkan pendampingan psikososial. Data tersebut merupakan bagian dari pemetaan dampak gempa terhadap sektor pendidikan hingga 10 September 2026.
Pendampingan Sudah Dilakukan di 75 Sekolah
Kemendikdasmen bersama sejumlah mitra telah mulai memberikan dukungan psikososial. Hingga saat ini, layanan tersebut telah menjangkau 75 sekolah di wilayah terdampak.
Pendampingan dilakukan sebagai bagian dari pemulihan pendidikan agar peserta didik dapat kembali merasa aman dan secara bertahap mengikuti kegiatan pembelajaran setelah mengalami situasi bencana.
Sebelumnya, hasil asesmen cepat di sejumlah wilayah seperti Ngada dan Nagekeo menemukan adanya anak yang mengalami ketakutan terhadap gempa susulan, kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, hingga takut berada di dalam rumah.
1.820 Fasilitator Akan Dilatih
Untuk memperluas jangkauan layanan, Kemendikdasmen menyiapkan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah.
Para fasilitator tersebut nantinya mendukung pendampingan bagi sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak. Fokus pelatihan mencakup dukungan psikososial sekaligus pemulihan pembelajaran pascabencana.
Program tersebut disiapkan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan NTT dengan melibatkan perguruan tinggi serta Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Sejumlah mitra pembangunan dan lembaga kemanusiaan juga ikut memberikan dukungan di lapangan.
Pemulihan Pendidikan Tak Hanya Soal Gedung Sekolah
Gempa bumi yang melanda Pulau Flores sejak 15 Agustus 2026 berdampak pada 2.447 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Sebanyak 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan terdampak langsung. Selain itu, 62.722 warga satuan pendidikan sempat berada di pengungsian.
Kerusakan fisik juga cukup besar. Sebanyak 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat, sementara 8.728 ruang k








