ebanyak 413 siswa, guru, dan karyawan SMK Negeri 2 Yogyakarta mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan awal mengarah pada menu ayam gongso yang tidak matang sempurna.
Kepala Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, mengatakan kasus ini menunjukkan perlunya evaluasi proses pengolahan makanan oleh penyedia.
“Kalau masih terjadi kasus, ya berarti belum aman. Makanya kami lebih menekankan pada langkah-langkah preventif agar keracunan tidak terjadi lagi, mulai dari proses pengolahannya,” ujar Suci, Jumat (18/9/2026).
Berdasarkan laporan sekolah, 1.952 porsi MBG dikirim dari SPBG Caturtunggal Depok 03, Sleman, pada Rabu (16/9). Keluhan mual, pusing, hingga diare mulai muncul pada malam hari dan berlanjut pada Kamis. Angket internal mencatat 413 orang mengalami gejala.
Salah seorang siswa yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan kondisi di jurusannya relatif aman. Ia juga menyebut paket MBG kini menggunakan segel bertuliskan fresh.
“MBG-nya sekarang di segel pakai sticker fresh,” ujar siswa tersebut.
Ia menambahkan, tidak ada pembagian MBG di sekolah pada Jumat (18/9) karena adanya laporan gangguan kesehatan.
Karena pembagian MBG dua kloter, Ia juga menduga gangguan bisa berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi setelah batas waktu atau proses memasak, tetapi dugaan tersebut belum terbukti.
Penyedia dan mitra dapur sebelumnya menduga ayam gongso tidak matang sempurna. Polisi melakukan investigasi, sementara sampel makanan dijadwalkan untuk uji laboratorium.
Penerimaan MBG di SMKN 2 Yogyakarta dihentikan sementara hingga investigasi dan uji laboratorium selesai. Disdikpora DIY mendorong pengawasan terbuka dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua








