Selama Ramadhan, banyak siswa punya satu “kebiasaan klasik”: langsung rebahan dan tertidur lagi setelah sahur. Di Sidoarjo, ada satu SMP swasta yang memilih melawan pola itu dengan cara yang cukup unik, yaitu lewat program “Sekolah Subuh”. Alih-alih memundurkan jam belajar, sekolah ini justru memajukan jam masuk menjadi pukul 05.30 WIB, tepat setelah waktu subuh. Tujuannya sederhana tapi penting: membentuk kebiasaan bangun pagi, menghindari pola tidur yang berantakan, dan melatih kedisiplinan selama bulan puasa.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar perubahan jadwal, tapi bagian dari program pembinaan karakter. Jika umumnya sekolah baru mulai sekitar pukul 07.30–08.00, di sini siswa sudah duduk di kelas sejak habis subuh. Supaya ritme harian tetap seimbang, jam pulang juga disesuaikan menjadi pukul 10.00 WIB. Dengan begitu, siswa masih memiliki waktu cukup untuk beristirahat di siang hari sebelum kembali fokus pada ibadah sore dan malam, sejalan dengan anjuran untuk beristirahat sejenak di tengah hari.
Tak berhenti di jam masuk yang lebih pagi, sekolah ini juga menawarkan program “Intensif Ramadhan” dengan konsep mukim atau menginap di sekolah selama tiga pekan. Ruang kelas disulap menjadi tempat tinggal sementara lengkap dengan lemari dan matras yang disediakan pihak sekolah. Selama menetap, siswa menjalani kegiatan ibadah yang terjadwal, mulai dari tadarus Al Quran dengan target khatam 30 juz, shalat berjamaah, muhadlarah, hingga kajian kitab.
Banyak siswa mengaku lebih mudah disiplin saat berada di lingkungan sekolah dibanding di rumah, terutama soal bangun sahur dan mengaji. Orang tua pun menilai program ini membantu mengarahkan anak agar tidak begadang, tidak main hingga larut, dan lebih fokus pada kegiatan positif di bulan suci.
Kalau di daerahmu, sudah ada sekolah yang berani coba konsep “Sekolah Subuh” seperti ini? Menurutmu efektif, atau justru terlalu berat untuk siswa? Tulis opinimu di kolom komentar!





































