Di tengah gencarnya komitmen peningkatan mutu pendidikan, kondisi memprihatinkan justru terjadi di SD Negeri 1 Kepek, Saptosari, Gunungkidul. Sebagian siswa terpaksa mengikuti pelajaran di musala dan ruang darurat karena banyak kelas tak lagi layak digunakan. Plafon jebol, genting ambrol, hingga bangunan perpustakaan yang sudah ambruk sejak tahun lalu menggambarkan betapa serius kerusakan yang terjadi di sekolah ini.
Melalui akun resmi, Dinas Pendidikan Gunungkidul menegaskan komitmen Pemkab lewat program BOCAH PINTER yang salah satunya fokus pada perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Mereka menyebut sudah melakukan pengecekan langsung ke SDN 1 Kepek dan memasukkan data kerusakan ke sistem Dapodik. Namun, hasil pendataan menunjukkan tingkat kerusakan “hanya” 21,43 persen, sehingga sekolah ini belum masuk skala prioritas revitalisasi 2026. Pernyataan ini kemudian jadi sorotan ketika dibandingkan dengan kondisi nyata di lapangan.
Saat ini, dari total 12 ruang kelas, lima di antaranya sudah rusak berat, tiga ruang kelas lain sudah lama tidak digunakan karena atap bocor dan bangunan lapuk, sementara perpustakaan rubuh sejak setahun lalu. Ruang kelas 6 pun sempat mengalami kerusakan setelah genting ambruk saat hujan deras, beruntung tidak ada korban karena terjadi di luar jam belajar. Akibat keterbatasan ruang, siswa kelas 2 harus belajar beralaskan karpet di musala, dan ruang kelas 1 yang digabung dengan perpustakaan kini tanpa plafon. Meski begitu, 148 siswa dan 14 guru tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar sebisanya di tengah kondisi yang jauh dari ideal.
Pemkab Gunungkidul menyebut penanganan akan dilakukan melalui skema anggaran perubahan 2026 sebagai respons kebutuhan riil di lapangan. Di sisi lain, Dinas Pendidikan mencatat ada 358 dari 463 SD di Gunungkidul yang masuk longlist kerusakan, dengan 105 sekolah diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensi. Kasus SDN 1 Kepek menjadi pengingat penting bahwa data administratif seharusnya tidak boleh mengalahkan fakta kondisi nyata yang sehari-hari dirasakan siswa dan guru di ruang belajar mereka.















