Selama kurang lebih setengah tahun, seorang guru honorer di Jakarta harus berangkat mengajar dengan cara yang tidak mudah. Abdul Azis (45), pengajar di MI Nurul Islam 1 Kamal Muara, setiap hari menggowes sepeda dari rumahnya di Tegal Alur, Kalideres, menuju Penjaringan, Jakarta Utara. Motornya sebelumnya hilang dicuri, tetapi situasi itu tidak membuatnya berhenti mengajar.
Jarak sekitar 10 kilometer ia tempuh tiap pagi dan pulang sore, sambil tetap memikirkan bagaimana cara menafkahi keluarga dan mendampingi pendidikan anak-anak di sekolah. Di tengah keterbatasan, ia memilih bertahan di dunia pendidikan dan tetap hadir di kelas sebagai sosok yang diandalkan murid-muridnya.
Hingga suatu hari, setelah selesai mengawasi ujian siswa kelas enam, Azis dikejutkan dengan kedatangan sejumlah relawan ke sekolah. Di halaman, terparkir sebuah motor baru yang ditutup kain oranye dan dihiasi pita. Motor Honda Genio tersebut merupakan hasil pengumpulan donasi yang digalang Relawan Gerak Bareng sebagai bentuk dukungan atas perjuangannya.
Ketika penutup kain dibuka, Azis tidak bisa menahan haru. Di depan murid dan rekan sejawat, ia menangis dan memeluk salah satu relawan sambil mengucap syukur berkali-kali. Ia merasa kini perjalanan ke sekolah akan lebih ringan, dan ia juga bisa membonceng putri sulungnya tanpa harus bersusah payah bersepeda.
Azis berharap kebaikan ini menjadi keberkahan bagi para donatur dan relawan, sekaligus mengingatkan bahwa masih banyak guru honorer lain yang perlu mendapat perhatian dan dukungan serupa. Kisahnya menjadi pengingat bahwa ketulusan mengajar dan konsistensi dalam mengabdi bisa mengetuk pintu-pintu kebaikan dari banyak orang.














